Tampilkan postingan dengan label sumatera utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera utara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2016

Kisah Asal Muasal Pohon Enau



Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa yang terletak di Tanah Karo, Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Anaknya yang pertama seorang laki-laki bernama Tare Iluh, sedangkan yang kedua seorang perempuan bernama Beru Sibou. Keluarga kecil itu tampak hidup rukun dan bahagia.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang suami sebagai kepala rumah tangga meninggal dunia, setelah menderita sakit beberapa lama. Sepeninggal suaminya, sang istrilah yang harus bekerja keras, membanting tulang setiap hari untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Oleh karena setiap hari bekerja keras, wanita itu pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Si Tare dan adik perempuannya yang masih kecil itu, kini menjadi anak yatim piatu. Untungnya, orang tua mereka masih memiliki sanak-saudara dekat. Maka sejak itu, si Tare dan adiknya diasuh oleh bibinya, adik dari ayah mereka.

Waktu terus berjalan. Si Tare Iluh tumbuh menjadi pemuda yang gagah, sedangkan adiknya, Beru Sibou, tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Sebagai seorang pemuda, tentunya Si Tare Iluh sudah mulai berpikiran dewasa. Oleh karena itu, ia memutuskan pergi merantau untuk mencari uang dari hasil keringatnya sendiri, karena ia tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi orang tua asuhnya.

“Adikku, Beru!” demikian si Tare Iluh memanggil adiknya.
“Ada apa, Bang!” jawab Beru.
“Kita sudah lama diasuh dan dihidupi oleh bibi. Kita sekarang sudah dewasa. Aku sebagai anak laki-laki merasa berkewajiban untuk membantu bibi mencari nafkah. Aku ingin pergi merantau untuk mengubah nasib kita. Bagaimana pendapat Adik?” tanya Tare Iluh kepada adiknya.

“Tapi, bagaimana dengan aku, Bang?” Beru balik bertanya.
“Adikku! Kamu di sini saja menemani bibi. Jika aku sudah berhasil mendapat uang yang banyak, aku akan segera kembali menemani adik di sini,” bujuk Tare kepada adiknya.
“Baiklah, Bang! Tapi, Abang jangan lupa segera kembali kalau sudah berhasil,” kata Beru mengizinkan abangnya, meskipun dengan berat hati.
“Tentu, Adikku!” kata Tare dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada bibi dan adiknya, si Tare Iluh berangkat untuk merantau ke negeri orang. Sepeninggal abangnya, Beru Sibou sangat sedih. Ia merasa telah kehilangan segala-segalanya. Abangnya, Tare Iluh, sebagai saudara satu-satunya yang sejak kecil tidak pernah berpisah pun meninggalkannya. Gadis itu hanya bisa berharap agar abangnya segera kembali dan membawa uang yang banyak.

Sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia menunggu abangnya, tapi tak kunjung datang jua. Tidak ada kabar tentang keadaan abangnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya di perantauan. Sementara itu, Tare Iluh di perantauan bukannya mencari pekerjaan yang layak, melainkan berjudi. Ia beranggapan bahwa dengan memenangkan perjudian, ia akan mendapat banyak uang tanpa harus bekerja keras. Tetapi sayangnya, si Tare Iluh hanya sekali menang dalam perjudian itu, yaitu ketika pertama kali main judi. Setelah itu, ia terus mengalami kekalahan, sehingga uang yang sudah sempat terkumpul pada akhirnya habis dijadikan sebagai taruhan. Oleh karena terus berharap bisa menang dalam perjudian, maka ia pun meminjam uang kepada penduduk setempat untuk uang taruhan. Tetapi, lagi-lagi ia mengalami kekalahan.

Tak terasa, hutangnya pun semakin menumpuk dan ia tidak dapat melunasinya. Akibatnya, si Tare Iluh pun dipasung oleh penduduk setempat. Suatu hari, kabar buruk itu sampai ke telinga si Beru Sibou. Ia sangat sedih dan prihatin mendengar keadaan abangnya yang sangat menderita di negeri orang. Dengan bekal secukupnya, ia pun pergi mencari abangnya, meskipun ia tidak tahu di mana negeri itu berada. Sudah berhari-hari si Beru Sibou berjalan kaki tanpa arah dan tujuan dengan menyusuri hutan belantara dan menyeberangi sungai, namun belum juga menemukan abangnya. Suatu ketika, si Beru Sibou bertemu dengan seor ang kakek tua.

“Selamat sore, Kek!”
“Sore, Cucuku!” Ada yang bisa kakek bantu?”
“Iya, Kek! Apakah kakek pernah bertemu dengan abang saya?”
“Siapa nama abangmu?”
“Tare Iluh, Kek!”
“Tare Iluh…? Maaf, Cucuku! Kakek tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, sepertinya Kakek pernah mendengar namanya. Kalau tidak salah, ia adalah pemuda yang gemar berjudi.”
“Benar, Kek! Saya juga pernah mendengar kabar itu, bahkan ia sekarang dipasung oleh penduduk tempat ia berada sekarang.
Apakah kakek tahu di mana negeri itu?
“Maaf, Cucuku! Kakek juga tidak tahu di mana letak negeri itu. Tapi kalau boleh, Kakek ingin menyarankan sesuatu.”
“Apakah saran Kakek itu?”

“Panjatlah sebuah pohon yang tinggi. Setelah sampai di puncak, bernyanyilah sambil memanggil nama abangmu. Barangkali ia bisa mendengarnya. Setelah menyampaikan sarannya, sang Kakek pun segera pergi. Sementara si Beru Sibou, tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mencari pohon yang tinggi kemudian memanjatnya hingga ke puncak. Sesampainya di puncak, si Beru Sibou segera bernyanyi dan memanggil-manggil abangnya sambil menangis. Ia juga memohon kepada penduduk negeri yang memasung abangnya agar sudi melepaskannya.

Sudah berjam-jam si Beru Sibou bernyanyi dan berteriak di puncak pohon, namun tak seorang pun yang mendengarnya. Tapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Ia terus bernyanyi dan berteriak hingga kehabisan tenaga. Akhirnya, ia pun segera mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

“Ya, Tuhan! Tolonglah hambamu ini. Aku bersedia melunasi semua hutang abangku dan merelakan air mata, rambut dan seluruh anggota tubuhku dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk negeri yang memasung abangku.”

Baru saja kalimat permohonan itu lepas dari mulut si Beru Sibou, tiba-tiba angin bertiup kencang, langit menjadi mendung, hujan deras pun turun dengan lebatnya diikuti suara guntur yang menggelegar. 

Sesaat kemudian, tubuh si Beru Sibou tiba-tiba menjelma menjadi pohon enau. Air matanya menjelma menjadi tuak atau nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya menjelma menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan untuk atap rumah. Tubuhnya menjelma menjadi pohon enau yang dapat menghasilkan buah kolang-kaling untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman.

Minggu, 24 April 2016

Legenda Danau Lau Kawar



Zaman dahulu kala, tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.

Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut.
Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadi dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.
Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya.
“Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.

Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu serta cucu-cucunya.

Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahab dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahabnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.

Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.
“Aduuuh… ! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.

Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.
“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.

Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya. “Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya.
“Belum?” jawab istrinya.
“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami.
“Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri. Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.
“Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara.
Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya.
“Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.

Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.
“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.

Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu.
Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama Lau Kawar.
Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawar dari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara.

Sabtu, 23 April 2016

Legenda Gua Kemang Sembahe

Dahulu kala terdapat seorang petani yang ingin membuka ladang di Kampung Uruk Rambutan , tanah Karo. Pria ini disebut dengan Bolang yang berarti kakek dalam bahasa Karo.


Bolang tersebut ingin membuka ladang untuk ditanam disekitar kampung uruk rambutan (sekarang sembahe) . Namun ditengah perjalanan betapa terkejutnya Bbolang tersebut ketika melihat makhluk kecil dengan tumit terbalik melintas disekitar tempat yang akan dijadikan ladang. jalan Bolang tersebut bertemu dengan Umang  (dalam bahasa karo jin , roh jahat ,hantu sering disebut dengan umang) . Bentuknya kecil dengan tumit terrbalik dengan kaki yang menghadap kebelakang.

Umang ini bersedia  membantu bolang tersebut untuk membuka , membersikan dan menanami lahan. Umang menaruh kesepakatan kepada Bolang agar tidak memberi tahu orang lain tentang hal ini . Bolang juga dilarang membawa perempuan dan anak kecil kemari.  Bolang menyetujui kesepakatan ini , diapun meminta bantuan umang untuk menggarap lahan yang masih semak belukar.  Ladang ini tidak mampu dibersihkan dalam satu hari , namun umang ini mampu melakukannya. Bolang ini kembali kerumah dan menceritakan bahwa ladang telah dibersihkan dan digarap. Istri yang merasa heran , mulai menaruh curiga kepada Bolang. Keesokannya secara diam-diam sang istri mengikuti Bolang ke ladang Betapa terkejutnya sang istri saat melihat ladang yang berisi makhluk-makhluk kecil menggarap lahan. Sang umang mengetahui keberadaan istri bolang tersebut dan menanggap perjanjian dengan bolang batal.

Lahan yang sudah digarap kembali seperti semula. Bolang  yang mengetahui ini marah besar kepada istrinya , dan keesokan harinya bolang kembali kehutan untuk menemui. Namun Bolang hanya menemukan satu bongkahan batu besar dengan lubang 50 x 50 ditengahnya .Batu ini dipercaya sebagai tempat tinggal umang dan diberi nama dengan Goa Kemang. Dan ditemukan masyarakat pada zaman penjajahan Belanda. Banyak orang yang berusaha memindahkan batu ini termasuk koloni Belanda itu sendiri. Namun tidak ada satupun yang mampu mengangkatnya. Orang - orang primitif sekitar kampung kemudian menyembah batu ini , mengantar sesajen juga memohon permintaan di Batu Ini, sejak saat itulah desa ini di juluki dengan desa Sembahe yang dalam bahasa Karo berarti sembahlah itu.

Jumat, 22 April 2016

E U B Ö W Ö (Pohon Pemberi)

Pada zaman dahulu berdiri satu kerajaan yang makmur dan damai. Dalam wilayah kerajaan itu terdapat satu pohon besar yang menjulang tinggi yang diberi nama “EU BÖWÖ” (pohon pemberi). Letaknya cukup strategis bagi banyak orang. Setiap hari semua makhluk hidup datang dibawah rindangan pohon tersebut untuk berteduh. Burung dan hewan lain hinggap di pohon itu dan minta pemberian. Daun pohon itu setiap hari melambai-lambai sepertinya memanggil sekalian makhluk di bumi mengokohkan persatuan dan kesatuan. Pohon tersebut cukup adil dalam memberikan rezeki, sehingga tidak seorangpun manusia yang miskin dan melarat. Pohon tersebut dinamai oleh masyarakat  “Pohon pemberi rezeki”.
 
Suatu ketika saat fajar menyingsing sekalian makhluk bersuka ria menyambut pagi hari yang ceria, seketika datanglah bertamu seekor binatang kecil namanya Lito-lito (ulat) kecil mau menghadap Eu Bôwô (pohon pemberi) hendak meminta pertolongan agar dia dapat menjelma menjadi seekor ayam jantan. Pohon pemberi (Eu Bowo) mengabulkan permintaanya,  lalu diberi namanya “Si Jago”.
Ayam Jago pergi dengan gagahnya, berniat hendak membunuh ayam-ayam dalam kerajaan. Si Jago secepat kilat telah tiba di halaman Istana Raja, dia melihat ribuan ayam hidup santai di halaman kerajaan. Tanpa perhitungan dan rasa kasih sayang terhadap sesama, si Jago terbang menghajar semua jantan dan betina. Dengan kesaktiannya ribuan ayam mati dan yang lain lari bersembunyi. Melihat kenyataan itu putera Baginda Raja memerintahkan para Hulubalang mengejar ayam Jago untuk di bunuh. Si Jago terbang ke angkasa menuju Eu Bôwô (pohon pemberi). Segala peristiwa diceritakannya, dan si Jago memohon agar pohon pemberi mengubah wujudnya menjadi seekor kambing, lalu si Jago menjelma menjadi seekor kambing, diberi namanya: “Hitam”.

Hitam meloncat-loncat kegirangan lalu pergi meninggalkan Eu Bôwô. Saat si Hitam tiba di tempat kawanan kambing, gembala sedang istirahat, kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Hitam untuk membunuh semua kambing jantan dan betina, ratusan yang mati, puluhan ekor luka-luka. Para gembala terkejut dan sedih melihat ratusan kambing yang mati. Hitam secepat kilat lari menyelinap. Pada pagi hari hitam menceritakan segala peristiwa yang terjadi pada Eu Bowo bahwa gembala ternak berniat membunuhnya. Hitam mohon kepada “pohon pemberi” agar wujudnya menjelma menjadi seekor kuda diberi nama: “Merah”.

Merah lalu pergi meninggalkan Eu Bowo bermaksud membunuh semua kuda bahkan manusia. Dari kejauhan tampak olehnya seekor kuda ditunggangi oleh seorang pemuda. Merah mempercepat langkahnya hendak melampiaskan niat buruknya. Ketika berdekatan secepat kilat kedua kaki Merah menyerang kuda tadi akhirnya kuda itu mati dan penunggangnya luka berat. Merah meneruskan perjalanan menuju Istana Raja dan memasuki gelanggang kuda, terjadilah pertempuran yang sengit. Si Merah berhasil membunuh beratus-ratus ekor kuda dan puluhan yang luka dan cacat. Para Hulubalang dan prajurit mengejar si Merah. Beberapa peluru menghujani kearah Merah namun karena kesaktiannya tak ada satu peluru yang menembusnya. Peristiwa itu diceritakannya kepada Eu Bowo dan memohon agar ia menjelma menjadi seorang pemuda sakti. Merah menjelma menjadi seorang pemuda  dan diberi nama: “Sabe`e Tandro” (keras kepala).

Sabe`e Tandro pergi meninggalkan Eu Bôwô mengenakan pakaian pendekar sakti menuju Istana Raja yang sedang merayakan pesta ulang tahun. Dengan gagah perkasa Sabe`e tandro memasuki Istana, langsung menghadap Baginda Raja menyampaikan maksud kedatangannya. Sabe`e tandro memperkenalkan diri bahwa ianya seorang Putera Raja dari kerajaan yang sungguh jauh dari kerajaan ini, bermaksud menggantikan kedudukan Baginda Raja. Mendengar ucapan itu Baginda Raja terkejut dan terperajat dari tempat duduknya, lalu ia berkata ketahuilah : maksud kedatangan tuan tentu saja ditolak oleh rakyatku. Sabe`e tandro memberi tawaran kedua: Bila secara damai ditolak, satu-satunya jalan hanya dengan peperangan. Akhirnya opsi yang terakhir menjadi pilihan yakni  terjadilah peperangan yang dahsyat, gempar diseluruh kerajaan. Ratap dan tangisan terdengar dimana-mana, darah manusia mengalir ke sungai. Pada hari ketiga Panglima besar kerajaan memberi isyarat tanda menyerah. Segera diadakan perundingan dan hasilnya Sabe`e tandro dinobatkan menjadi Raja. Nama kebesarannya “Raja Tandrofô” (Raja yang bertahan pada pendapat).

Raja Tandrofô memerintah dengan gaya korupsi dan kekerasan (Diktator) seluruh rakyat menderita bahkan ribuan orang mati kelaparan. Raja Tandrofô berniat membangun Istana Raja, sebuah bangunan pencakar langit megah dan istimewa. Diperintahkan seluruh rakyat mengambil Eu Bôwô sebagai bahan bangunan. Mendengar ucapan itu seluruh rakyat bersedih, namun tak seorangpun yang berani menolak perintah raja, kendatipun mereka tahu bahwa Eu Bôwô sumber rezeki.

Eu Bôwô di gergaji oleh tukang kayu, namun setengah hari mereka tidak berhasil, kulitnya sajapun tidak dapat tergores oleh setiap jenis alat yang mereka gunakan. Eu Bôwô menangis sedih dan bertanya: siapa yang menyuruh kalian membunuh aku? Para tukang menjawab: Raja Tandrofô, pohon pemberi menjawab: suruh Raja Tandrofô disini, ada sesuatu yang hendak saya sampaikan. Mendengar berita itu, Raja Tandrofô sangat marah lalu mengenakan baju tanda kebesaran dan keris pusaka ditangannya. 
 
Ketika Raja Tandrofô tiba dibawah pohon pemberi (Eu Bôwô), Eu Bôwô berseru: Saudara Raja Tandrofô: budi baikku kau balas dengan kejahatan”. Hari ini saksikan hai semua makhluk di bumi dan seluruh rakyat, inilah asal-usul Raja Tandrofô; Raja Tandrofô menjelma menjadi seekor kuda, kuda menjelmah menjadi kambing, kambing menjelmalh menjadi ayam, ayam menjelmah menjadi Lito-lito (ulat). Semuanya terjadi menurut yang diucapkan oleh Eu Bôwô. Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa yang aneh dan luar biasa itu. Eu Bôwô menyuruh salah seorang rakyat segera membunuh Lito-lito tadi agar kejahatannya berakhir dengan kematian. Eu Bôwô membimbing seluruh rakyat agar berbuat dengan baik dan bekerja keras. Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan berkembang karena pengalamannya    Hargailah segala jasa-jasa yang baik yang telah diterima semasa hidup, jangan melupakan sejarah dan jangan memutarbalikan fakta.

Putri Kaca Mayang



Alkisah ada sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini dipimpin oleh rajanya yang  bernama raja Gasib. Raja Gasib mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Kaca Mayang serta seorang panglima yang tangguh bernama Panglima Gimpam.

Kecantikan putri tersohor sampai ke berbagai negri,  tetapi tak ada satu pun yang berani melamar sang putri, karena Raja Gasib sangat disegani di kalangan raja-raja. Kecantikan putri Kaca Mayang, terdengar sampai ke telinga Raja Aceh.  Raja Aceh pun berniat  meminang sang putri. Maka, dipanggillah dua orang panglimanya untuk menyampaikan niatnya ke pada sang putri.

“Wahai panglimaku,” kata Raja Aceh, “Pergilah kalian ke kerajaan Gasib, sampaikan niatku yang ingin mempersunting putri Kaca Mayang.”

“Baik, Banginda Raja,  titah Baginda hamba laksanakan.”

Maka, berangkatlah dua utusan ini ke kerajaan Gasib. Akhirnya, sampailah mereka di kerajaan langsung menghadap Raja Gasib.

“Maaf baginda Raja Gasib yang bijaksana. Hamba utusan dari Kerajaan Aceh, ingin menyampaikan niat raja kami yang ingin mempersunting putri tuanku Baginda, Putri Kaca Mayang.”

“Wahai Panglima Raja Aceh, sampaikan kepada Raja kalian, bahwa saya tidak bisa menerima pinangan Raja kalian. Putri Kaca Mayang belum bersedia untuk dipersunting siapa pun. Sampaikan maaf saya kepada raja kalian,” sahut Raja Gasib dengan wibawanya.

Berangkatlah pulang dua utusan ini dan menyampaikan semua yang disampaikan Raja Gasib. Raja Aceh sangat marah dan merasa terhina atas penolakan lamaran ini. Maka, Raja Aceh yang memiliki sifat yang sombong berniat akan menculik sang putri dan memporakporandakan Kerajaan Gasib. Pasukan pun dipersiapkan untuk menyerang kerajaan Gasib.

Raja Gasib yang mengetahui kelicikan dan perangai Raja Aceh juga mempersiapkan pasukannya. Raja Gasib tahu akan ada penyerangan atas penolakan lamaran itu, dipanggillah panglima kebanggaannya.

”Wahai, Panglimaku Gimpam! Untuk menjaga kemungkinan serangan dari kerajaan Aceh, kamu saya utuskan menjaga di Kuala Gasib daerah Sungai Siak.“
“Hamba laksanakan titah Baginda Raja,” kata Panglima Gimpam.

Lalu berangkatlah Panglima Gimpan ke daerah Sungai Siak.

Rupanya, mata-mata raja Aceh ada di kerajaan Gasib. Raja Aceh mengetahui bahwa di kerajaan tidak dijaga panglima yang terkenal sakti itu. Raja Aceh pun mengatur strategi jahatnya.

Karena tidak mengetahui jalan kekerajaan Gasib, raja Aceh menemui seorang warga kerajaan di jalan. Bertanyalah Raja Aceh,”Hai, Anak muda,  tahukah kamu jalan menuju kerajaan Gasib?”

Karena melihat pasukan yang ramai berarti ingin menyerang kerajaan Gasib, pemuda inipun menjawab dengan berbohong,  “Ampun Tuanku, hamba tidak mengetahui jalan menuju kerajaan Gasib. Hamba penduduk baru negeri ini.”

Raja Aceh tahu kalau pemuda itu berbohong, dipanggillah pengawalnya untuk menghajar pemuda itu. Karena tak tahan, pemuda itu pun kemudian menunjukkan jalan menuju kerajaan Gasib.
Raja Aceh kemudian melanjutkan perjalanan menuju perkampungan sekitar kerajaan.

Pasukannya membunuh setiap warga yang ia temui di jalan yang dilaluinya. Sungguh, perbuatannya teramat kejam. Akhirnya,  sampailan mereka  di istana.  Raja Aceh pun berhasil menculik Putri Kaca Mayang. Melihat hal ini, Raja Gasib tidak bisa berbuat apa-apa karena ini semua di luar dugaannya.
Berita ini pun kemudian sampai di telinga Panglima Gimpam. Bukan main marah dan murkanya panglima Gimpam. Panglima pun segera menuju kerajaan. Betapa sedih dan dendamnya panglima Gimpam, negerinya dirusak oleh pasukan Raja Aceh. Panglima Gimpam pun bersumpah akan membalas dendam dan akan membawa sang putri kembali ke istana.

Berangkatlah panglima Gimpam. Kedatangannya  disambut dengan Raja Aceh rupanya dengan pengawalan dua ekor gajah yang sangat besar. Raja Aceh tidak mengetahui kehebatan panglima Gimpam yang bisa menundukkan hewan, hingga panglima berhasil masuk ke kerajaan Aceh,
“Wahai raja Aceh kembalikan sang Putri kepada kami  atau kerajaan ini akan porak-poranda!”
“Baiklah akan saya kembalikan Putri Kaca Mayang!”kata Raja Aceh. “Kau memang hebat panglima Gimpam setelah kulihat denganmata kepalaku sendiri.”

Raja Aceh yang mengakui juga kehebatan panglima Gimpam, akhirnya menyerahkan sang putri kepada panglima Gimpam yang dalam keadaan sakit akibat penculikan itu. Pulanglah panglima Gimpam bersama sang putri dan pasukannya.

Dalam perjalanan, rupanya angin laut sangat kencang membuat Putri Kaca Mayang tidak bisa bernafas. Dari waktu ke waktu, sakitnya semakin parah. Putri pun berucap kepada panglima Gimpam sesampai mereka di sungai Kantan.

Dengan suara lemahnya putri berkata, “Panglima aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini sampai menuju istana. Sampaikan maafku pada ayahanda Gasib dan semua keluarga istana,” ucap sang putri dengan suara yang semakin parau. Belum sempat panglima Gimpam berucap sang putri memejamkan matanya. Putri Kaca Mayang menghembuskan nafas terakhirnya di perairan Sungai Kuantan.

Betapa sedinya panglima Gimpam dan merasa bersalah tidak berhasil membawa Putri Kaca Mayang dalam keadaan hidup. Raja Gasib dan keluarga istana serta seluruh penduduk negri merasa berduka atas meninggalnya sang putri raja. Sang Putri Kaca Mayang akhirnya dimakamkan di dekat kerajaan Gasib.
Sejak kehilangan  putri tercintanya raja Gasib merasakan kesedihan yang dalam. Akhirnya raja Gasib memutuskan meninggalkan kerajaan, menyepi di gunung Ledeng, Malaka.

“Wahai panglimaku, aku memutuskan akan meninggalkan kerajaan ini untuk mengapus bayang-bayang terhadap putriku tercinta. Maka aku akan menyepi ke Gunung Ledeng. Jagalah kerajaan ini dengan bai!” begitu titah terakhir sang Raja kepada Panglima Gimpam.

Panglima Gimpam sangat bersedih karena Raja Gasib akan meninggalkan kerajaan. ”Baginda raja, kalau itu keputusan Baginda. Hamba akan laksanakan amanah yang Baginda berikan dan akan hamba jaga dengan baik kerajaan ini,” kata Gimpam.

Sementara kerajaan dititipkan kepada panglima kepercayaannya, pergilah raja Gasib menuju penyepiannya. Sekian lama ditinggalkan raja Gasib yang tak kunjung kembali dan kerajaan juga aman maka Panglima Gimpam pun mengambil keputusan akan meninggalkan kerajaan juga. Walaupun kerajaan itu sudah dititpkan padanya, tetapi Panglima tidak mau mengambil kesempatan menguasai kerajaan. Panglima Gimpam tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain.

Panglima Gimpam membuka lahan baru, di sebuah perkampungan baru, yang dinamainya Pekanbaru.
Hingga kini nama itu digunakan sebagai salah satu ibukota di Propinsi Riau yaitu kota Pekanbaru. Sampai akhirnya Panglima Gimpam juga wafat dan makamnya tidak jauh dari Pekanbaru sekitas 20 meter yang berada di Hulu Sail (daerah Pekanbaru).

Rabu, 20 April 2016

Sampuraga



  Pada jaman dahulu ada satu keluarga di daerah Tapanuli Utara. Tepatnya di desa Tarutung keluarga ini hidup dalam keadaan yang sangat sederhana, pekerjaan dari keluarga ini adalah bertani. Pasangan suami istri tersebut telah berkeluarga cukup lama yakni 15 tahun yang tidak dikaruniai keturunan. Pada usia ke 18 pernikahan merea, istri sang bapak tersebut mengalami gejala-gejal kehamilan. Alangkah bahagianya keluarga tersebut sejak lama menunggu sang anak.
 
            Memasuki usia ke 9  bulan janin tersebut ibu itu akan melahirkan seorang anak laki-laki. Pasangan suami istri tersebut alangkah bahagianya karena kelahiran anak laki-laki di dalam keluarga mereka. Sang ayah memberi nama anak dengan nama Sampuraga.
 
            Sampuraga yang berkembang dewasa tidak ingin melihat keluarganya dalam keadaan yang begitu saja hanya bertani di ladang Ia memiliki niat untuk merantau ke kota. Ia meminta izin kepada ke dua orang tuanya. Dengan berat hati Sampuraga pun dilepaskan untuk merantau ke kota. Untuk memperbaiki nasibnya di kota.
 
            Setelah cukup lama meninggalkan kampung halamannya. Sampuraga bekerja sangat keras untuk memperbaiki nasibnya. Di kota sampuraga bekerja sebagai pedangang setelah lama menjadi pedangang, Sampuraga berhasil dalam perdangannganya Ia menjadi seorang yang kaya raya. Sampuraga memiliki niat untuk memiliki seorang istri lalu sampuraga mempersunting seorang gadis kaya raya dan orang terpandang di kota tersebut, setelah beberapa tahun menikah. Sampuraga dikarunia i anak laki-laki dan perempuan. Akan saking kayanya Sampuraga sampai terdengar kabar kepada kedua  orang tuanya di kampung halamanya.
 
            Orang tua Sampuraga yang masih bertani di kampung berniat untuk menemui Sampuraga di kota. Sesampai di kota ia bertemu juga dengan Sampuraga yang dulu miskin di desa dan sekarang kaya di kota. Lalu ibu sampuraga ingin memeluk anak satu-satunya Karna saking rindunya akan tetapi sampuraga mengelah dan berkata siapa kalian orangtua rentah yang ingin memeluk saya di depan hadapan istri saya. Lalu terkejutlah kedua orangtua Sampuraga yang lelah setelah menjalani perjalanan yang jauh dari kampung ke kota atas kesombongan anak nya tersebut. 
 
            “ aku ini ibumu yang telah mengandung kamu selama 9 bulan di rahim aku dan ini ayahmu yang telah mendidik kamu dan bersusah paya memberi kamu makan ” kata sang ibu.
 
            “ aku tidak memiliki orang tua seperti kalian kedua orang tua saya sudah mati jadi sekarng pergilah kalian jangan mengaku-ngaku menjadi orangtua saya. Pergi..... ” kata Sampuraga
 
             jadi kamu tidak mengenal kami aku ini ayah mu ” kata sang ayah
              ahhh... diam kalian aku tidak memiliki orang tua seperti kalian jadi pergi !!!! ” kata 
 sampuraga tanpa disadarinya datanglah angin dengan tiba-tiba yang sangat kencang dan suara gemuruh petir yang berdesir secara berulang-ulang dan menyambar sampuraga, kemudian sampuraga jatuh dan mati terbakar dan menjadi batu lalu kedua orang tua sampuraga menangis melihat anaknya yang kaku menjadi patung batu. Demikianlah hukuman dari tuhan atas kesombongan yang dilakukan oleh Sampuraga yang tidak mengingat orang tuanya yang susah dikampung halamannya di Tarutung.

Senin, 18 April 2016

Putri Bunga Melur

Sudah bertahun-tahun lamanya sepasang suami istri belum juga mempunyai seorang anak pun. Akan tetapi mereka tidak putus asa dan terus berdoa kepada Allah. Suatu hari ketika istrinya melihat sekuntum bunga melur, seketika terpikir olahnya, "Bila saja aku mempunyai seorang anak perempuan secantik bunga melur ini, alangkah bahagiaku". Beberapa hari kemudian sang istri bermimpi didatangi seorang kakek tua yang berkata kepadanya, bahwa Allah akan mengabulkan doanya. Ketika anaknya lahir, badannya hanya sebesar bunga melur dan suami istri itu menamakannya Putri Bunga Melur karena wajahnya secantik bunga ini. Pada suatu hari Putri Bunga Melur yang sudah meningkat remaja jatuh sakit. Teringat oleh ibunya, pesan kakek tua dalam mimpinya bertahun-tahun lalu. Sebab itu, ibu dan ayah Puteri Bunga Melur memutuskan untuk mengirimkan anaknya ke negeri seberang. Sebelum berlayar, ayah dan ibunya berpesan untuk tidak menghiraukan bunga bakung yang ditemuinya dalam perjalanan. Akan tetapi, ditengah perjalanan Putri Bunga Melur lupa akan pesan ayah ibunya. Seorang gadis jelek sebesar dirinya yang bernama Tuntung Kapur, tiba-tiba muncul dari bunga bakung yang didekatinya dan melompat kedalam perahunya. Dengan kasar ia memerintahkan Putri Bunga Melur segera berangkat kembali. Setelah menempuh perjalanan yang amat jauh, sampailah mereka di negeri seberang. Penduduk menjadi kacau karena mereka hanya melihat seberkas sinar dan tidak melihat kedua gadis itu. Segera mereka menghadap Raja. Raja seketika teringat mimpinya beberapa tahun lalu. Seorang kakek tua mengatakan, bahwa putera raja yang badannya sebesar ibu jari itu akan mendapatkan jodoh bila tampak sinar terang di pelabuhan. Segera Raja bergegas berangkat ke pelabuhan. Tuntung Kapur berkata kepada Raja bahwa Putri Bunga Melur adalah pembantunya. Karena Raja mengira bahwa Tuntung Kapur adalah jodoh puteranya, maka dia memutuskan akan menjodohkan puteranya dengan Tuntung Kapur. Sementara itu putera Raja memperhatikan tingkah laku kedua gadis itu. Tidak seperti Putri Bunga Melur, Tuntung Kapur tidak bisa memasak. Sejak itu putera Raja senang mengunjungi Putri Bunga Mekur. Ia ingin menikahi Putri Bunga Melur. Suatu ketika Raja dan putera mahkota berpesiar menelusuri sungai. Mereka menjadi curiga ketika mendengar nyanyian binatang-binatang penghuni hutan. Raja menanyakan hal ikhwal yang sebenarnya, akan tetapi Tuntung Kapur tidak mau mengakui perbuatannya. Putri Bunga Melur kemudian menceritakan seluruh kisahnya. Baginda Raja pun murka karena ditipu oleh Tuntung Kapur. Tuntung Kapur diusir meninggalkan negeri seberang. Segera Baginda Raja memerintahkan rakyatnya untuk menyiapkan pesta perkawinan yang megah untuk putera mahkota dan Putri Bunga Melur.

Sabtu, 16 April 2016

Putri Yang Menjadi Ular



Di tepi sebuah hutan kecil yang hijau, sebuah danau yang berair jernih berkilau disapa mentari pagi. Permukaannya yang tenang beriak kala sepasang kaki yang indah menyibaknya. Sang pemiliknya adalah seorang putri yang sedang duduk di atas batu besar yang menyembul dari dasar danau. Aduhai alangkah cantiknya ia. Bahkan burung-burung pun terpesona memandangnya. Ialah Putri dari kerajaan di sebuah negeri di wilayah Simalungun yang terkenal amat rupawan. Ialah dambaan dari Puluhan Pangeran dan Putra bangsawan. Dan kini seorang Pangeran dari negeri seberang telah datang untuk meminangnya.

Sepasang ikan meloncat di dekat kakinya membuyarkan lamunannya.
“Ah alangkah bahagianya kedua ikan ini. Mereka pastilah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sebentar lagi akupun akan sebahagia mereka,” pikir Putri sambil tersenyum kecil.
Beberapa Dayang yang menemani sang Putri, duduk-duduk di tepi danau memperhatikan tingkah sang Putri yang sebentar-bentar tersipu dan tersenyum malu.

“Lihatlah Tuan Putri kita. Oh ia pasti sedang melamunkan rencana pernikahannya dengan Pangeran dari kerajaan tetangga yang katanya sangat tampan. Setelah puluhan Pangeran yang datang, akhirnya Baginda memutuskan menerima lamaran yang satu ini,” kata salah satu Dayang.
“Kenapa? Apa istimewanya Pangeran itu?” tanya Dayang lainnya.
“Entahlah. Bagaimana aku bisa tahu,” kata Dayang pertama.
“Ayolah! Ceritakan apa yang kau ketahui,” desak Dayang lain.

“Aku juga tidak tahu banyak, “ jawab Dayang pertama yang rupanya Dayang kepercayaan Putri. “Tadi pagi Baginda memanggil Putri menghadap. Katanya utusan Pangeran dari kerajaan tetangga datang untuk melamarnya. Kerajaannya sangat besar dan kuat. Sehingga menurut Baginda, jika lamaran itu ia terima, otomatis akan menyatukan kekuatan kedua negeri.”
“Apakah Tuan Putri langsung menerimanya?” tanya Dayang kedua.
“Ya tentu saja. Putri adalah anak yang berbakti. Ia tahu perkawinan ini akan membawa kebaikan untuk seluruh negeri,” jawab Dayang pertama.

“Kalau begitu, sebentar lagi akan ada pesta besar donk! Asyiiiiik.,” seru Dayang-dayang.
“Ah, masih lama. Masih dua bulan lagi. Pestanya memang akan besar-besaran, makanya butuh waktu lama untuk mempersiapkannya,” kata Dayang pertama.
“Ya Tuhan. Semoga Tuan Putri selalu bahagia,” doa semua Dayang.
“Tugas kita sekarang adalah menjaga Tuan Putri supaya tidak ada sesuatu yang akan membatalkan pernikahannya,” kata Dayang pertama disambut anggukan Dayang lainnya.

“Bibi Dayang…!” seru Putri.
Para Dayang segera berlarian menuju Tuan mereka. Mereka membantu Putri membersihkan badan hingga kulitnya semakin tampak menawan. Kemudian mereka mencuci rambutnya yang panjang dan hitam sehingga harum semerbak. Kemudian para Dayang membiarkan Tuan mereka berendam menikmati kesejukan air danau. Memang begitulah kebiasaan Putri, ia tidak pernah cepat-cepat keluar dari air setelah selesai membersihkan badan.

Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang menggoyangkan semua pepohonan di pinggir danau. Sebatang ranting yang lumayan besar, patah dan jatuh menimpa wajah Putri tanpa sempat menghindarinya.
“Aaaa…..!” Putri menjerit kesakitan.

Dayang-dayang segera berlarian membantu Putri keluar dari danau. Dari sela jari-jari Putri yang masih menutupi mukanya, mengalir darah segar. Dengan panik mereka berusaha menghentikannya. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari ternyata hidung Putri telah hilang sebelah.
“Cepat ambilkan aku cermin!” perintah Putri.

Dengan ketakutan, mereka segera menyerahkan sebuah cermin.
“Tidaakkk…!” tangis Putri pilu. “Oh Tuhan. Mukaku cacat. Bagaimana aku bisa menikah dengan Pangeran jika mukaku sejelek ini. Ia pasti tidak mau melihatku.”
Putri menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia begitu ketakutan membayangkan kemarahan Pangeran jika ia tahu mempelainya tak secantik yang ia bayangkan. Mungkin negerinya akan diserang, karena dianggap telah berbohong. Atau hal-hal buruk lainnya. Ia tak kuasa membayangkan kesedihan ayah dan bundanya.

“Tuhan, lebih baik kau hukumlah aku. Hilangkanlah aku dari dunia ini. Aku tidak sanggup bertemu kedua orang tuaku lagi, “ ratap Putri.
Petir menyambar diiringi guntur yang menggelegar begitu Putri mengucapkan doanya. Semua yang ada di situ menjerit ketakutan. Mereka semakin ketakutan ketika melihat badan Putri secara perlahan mulai ditumbuhi sisik seperti ular. Dayang pertama segera berlari ke istana untuk memberitahu Raja dan Ratu.
“Apa? Putriku berubah menjadi ular? Bagaimana bisa?” seru Ratu sambil terisak.

“Ayolah kita segera pergi melihatnya. Mungkin kita masih bisa menolongnya,” kata Raja sambil menarik tangan istrinya. Tabib istana pun tanpa disuruh ikut berlari di belakang Raja.
Sesampainya di danau, Putri sudah tidak tampak lagi. Tinggal para dayang yang masih menangis keras mengerumuni seekor ular besar yang bergelung di atas batu besar.
“Putriku…?” seru Ratu shock.

Ular besar itu menoleh dan menjulurkan lidahnya. Dari kedua matanya mengalir air mata. Pandangannya begitu memilukan seolah-olah hendak mengucapkan maaf dan selamat tinggal.
“Putri. Apa yang terjadi nak?” tangis Raja dan Ratu.
“Cepat tolong dia tabib!” seru Raja.

Namun Ular besar itu menggelengkan kepalanya dan segera meninggalkan mereka menuju hutan. Betapapun kerasnya Raja dan Ratu memanggilnya, Putri yang malang itu tetap menghilang ditelan hutan. Sejak itu Putri tidak pernah kembali. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu mengucapkan doa yang baik dan selalu berpikir tenang. Karena bagaimana seandainya kita terlanjur mengucapkan doa yang buruk dan kemudian dikabulkan? Mengerikan bukan?

Kamis, 14 April 2016

Legenda Putri Hijau



Pada jaman dahulu kala, ketika Sultan Mukhayat Syah dari Aceh sedang beristirahat di mahligainya, tiba-tiba ia melihat cahaya hijau dari arah timur. Sultan segera memanggil wazirnya dan menanyakan apakah gerangan cahaya itu. Sang wazir juga ikut terkejut dan tidak dapat menjawab pertanyaan Sultan. Baru keesokan paginya diutuslah seorang kepercayaan Sultan agar menyelidiki cahaya itu. Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa cahaya itu berasal dari tubuh Putri Hijau di Deli Tua.

Sultan Mukhayat Syah kemudian jatuh cinta, sekalipun Sultan belum pernah melihat wajah sang putri. la berhasrat ingin meminang putri. Barangkatlah ia menuju ke Deli diiringi oleh pengawal-pengawalnya.

Nah, siapakah Putri Hijau yang menawan hati Sultan Aceh itu? Konon menurut hikayat pada abad ke-15 di daerah Deli ada sebuah kerajaan, Gasip namanya. Kerajaan ini mempunyai perbatasan yang panjangnya dari Teluk Aru hingga sekitar Sungai Rokan. Kerajaan ini selalu mendapat saingan dari Kerajaan Aceh, yang pada waktu itu sedang sangat jaya. Untuk menghindari bencana lebih jauh, kerajaan ini memindahkan ibu negaranya jauh dari tepi pantai Selat Malaka. Kota yang baru itu diberi nama Deli Tua.

Ketika itu yang memerintah Kerajaan Deli ialah Sultan Sulaiman. Ketika beliau wafat, beliau maninggalkan tiga orang anak. Yang sulung bernama Mambang Jazid, yang kedua bernama Putri Hijau, dan yang terakhir bernama Mambang Khayali.

Putri Hijau adalah seorang wanita yang cantik wajahnya. la dinamakan Putri Hijau karena dari tubuhnya selalu memancarkan cahaya hijau, lebih-lebih jika ia sedang bermain di dalam taman pada waktu bulan purnama. Ketiga putra-putri Sultan Sulaiman ini dianggap rakyatnya sebagai penjelmaan dewa-dewa. Mereka dipuja sebagai orang-orang sakti.

Kini kita kembali kepada perjalanan Sultan Mukhayat Syah. Setibanya di Labuhan, Sultan segera mengirimkan utusan peminangan. Mambang Jazid mengajukan hasrat Sultan Aceh kepada Putri Hijau. Akan tetapi, Putri Hijau menolak lamaran Sultan Mukhayat Syah. Tentu saja Sultan Aceh amat marah. la merasa dihina.

Peperangan pun terjadilah. Banyak prajurit Aceh yang menjadi korban. Akhirnya, Perdana Menteri Aceh menemukan suatu tipu muslihat, yang dianggap akan dapat mengalahkan para prajurit Deli Tua. Tipu muslihat itu berupa penembakan uang ringgit ke arah kubu-kubu musuh, yang berupa rumpun bambu berduri yang rapat mengelilingi kota Deli Tua. Melihat uang-uang ringgit, rakyat Deli Tua tanpa pikir panjang lagi segera memotongi dan menebangi rumpun bambu berduri itu. Akibatnya, pertahanan kota Deli Tua menjadi hancur. Mereka sukar menahan serangan bala tentara Sultan Mukhayat Syah.


Untuk menahan serangan selanjutnya, Mambang Khayali menjelmakan dirinya menjadi sebuah meriam yang dapat menembaki musuh. Namun, tatkala pertempuran sedang berlangsung dengan hebatnya, ia merasa amat haus. la minta minum kepada Putri Hijau, tapi permintaannya ditolak. Menurut Putri Hijau, hal itu dapat mencelakakan. Akibatnya merasa lemahlah sendi-sendinya, sementara ia terus memuntahkan meriamnya. Tiba-tiba tubuhnya patah menjadi dua. Kepala meriam terpental sampai ke Aceh, sedangkan bagian belakangnya tetap tinggal di Deli.


Mambang Jazid memperoleh firasat bahwa mereka akan kalah perang. la berpesan kepada Putri Hijau bahwa bila sang putri kelak ditawan oleh Sultan Aceh, sedapat mungkin ia memohon agar dapat dimasukkan ke dalam sebuah keranda kaca. Sebelum tiba di Aceh, tubuhnya tidak boleh disentuh oleh Sultan Aceh. Setibanya di Aceh ia harus memohon kepada Sultan agar memerintahkan rakyatnya membawa persembahan masing-masing sebutir telur ayam dan segenggam bertih (beras putih). Semua persembahan itu harus dionggokkan di tepi pantai. Setelah upacara selesai, onggokan itu harus dibuang ke laut. Pada saat itu Putri Hijau harus keluar dari keranda kacanya lalu membakar kemenyan sambil memanggil nama Mambang Jazid. Setelah meninggalkan pesan terakhir itu, gaiblah Mambang Jazid.

Putri Hijau dapat ditawan dan akan dibawa ke Kerajaan Aceh. Putri Hijau segera mengajukan syarat-syarat seperti yang dipesankan Mambang Jazid. Sultan Mukhayat Syah mengabulkannya. Kini Putri Hijau diboyong ke Aceh.

Di Aceh kapal baginda berlabuh di muka Tanjung Jambu Air. Sultan memerintahkan rakyatnya agar mengadakan upacara persembahan kepada Putri Hijau. Seluruh rakyat memenuhinya.

Sausai upacara, Putri Hijau terlihat keluar dari keranda kacanya. Dalam kepulan asap kemenyan, Putri Hijau menyebutkan nama kakaknya. Tiba-tiba turunlah angin ribut dan hujan lebat disertai halilintar, dan gulungan ombak yang amat dahsyatnya.

Dunia seakan-akan hampir kiamat. Tiba-tiba muncullah seekor naga raksasa dari dalam ombak dan langsung menuju ke kapal Sultan Aceh. Dihantamnya kapal itu dengan ekornya hingga kapal terbelah menjadi dua dan karam dengan segera. Sultan Mukhayat Syah selamat.

Dalam keadaan yang kacau itu, Putri Hijau segera kembali ke keranda kacanya sehingga pada waktu ombak menghantam kapal, ia dapat terapung-apung di atas laut. Sang Naga segera meluncur menghampiri keranda itu lalu mengangkatnya dengan kepalanya dan dibawanya ke Selat Malaka. Gerakan itu amat cepatnya sehingga Sultan Aceh tidak dapat berbuat apa-apa. la hanya dapat termenung, merindukan, dan mengenangkan Putri Hijau yang sudah menjadi miliknya, tetapi terlepas lagi untuk selamanya.

Legenda Patung SiGale - Gale



Dahulu kala ada Seorang Raja yang sangat bijaksana yang tinggal di wilayah Toba. Raja ini hanya memiliki SEOrang anak, namanya Manggale. Pada zaman tersebut masih sering terjadi peperangan antar satu kerajaan ke kerajaan lain.

Raja ini menyuruh anaknya untuk ikut berperang melawan musuh yang datang menyerang wilayah mereka. Pada saat peperangan tersebut anak Raja yang semata wayang tewas pada saat pertempuran tersebut.

Sang Raja sangat terpukul hatinya mengingat anak satu-satunya sudah tiada, lalu Raja jatuh sakit. Melihat situasi sang Raja yang semakin hari semakin kritis , penasehat kerajaan memanggil orang pintar untuk mengobati penyakit sang Raja, dari beberapa orang pintar (tabib) yang dipanggil mengatakan bahwa sang Raja sakit oleh karena kerinduannya kepada anaknya yang sudah meninggal. Sang tabib mengusulkan kepada penasehat kerajaan agar dipahat sebuah kayu menjadi sebuah patung yang menyerupai wajah Manggale, dan saran dari tabib inipun dilaksanakan di sebuah hutan.

Ketika Patung ini telah selesai, Penasehat kerajaan mengadakan satu upacara untuk pengangkatan Patung Manggale ke istana kerajaan. Sang tabib mengadakan upacara ritual, meniup Sordam dan memanggil roh anak sang Raja untuk dimasukkan ke patung tersebut. Patung ini diangkut dari sebuah pondok di hutan dan diiringi dengan suara Sordam dan Gondang Sabangunan.

Setelah rombongan ini tiba di istana kerajaan , Sang Raja tiba-tiba pulih dari penyakit karena sang Raja melihat bahwa patung tersebut persis seperti wajah anaknya.

Inilah asal mula dari patung Sigale-gale (Patung putra SEOrang Raja yang bernama Manggale).

Rabu, 13 April 2016

Lubuk Emas


Cerita rakyat atau Legenda Lubuk Emas berasal dari daerah Sumatera Utara. Menceritakan seorang puteri raja Teluk Dalam bernama Sri Pandan yang memilih terjun ke sebuah lubuk sungai Asahan demi mempertahankan cinta pada kekasihnya.
Alkisah Raja Simangolong memimpin sebuah kerajaan di daerah Teluk Dalam, Sumatera Utara. Sang raja memiliki seorang anak perempuan berparas cantik jelita bernama Sri Pandan. Disamping cantik jelita, Sri Pandan juga terkenal sangat baik hatinya lagi terampil bekerja. Ia terampil menganyam tikar juga menumbuk padi.
Kecantikan Sri Pandan telah dikenal di seantero negeri. Banyak para pemuda berkeinginan meminang Sri Pandan. Namun demikian, Raja Simangolong berharap Sri Pandan kelak menikah dengan pangeran negeri lain agar bisa menjalin hubungan baik dengan negeri tersebut.

Pangeran Aceh Melamar Sri Pandan

Kecantikan putri Sri Pandan terdengar hingga di kerajaan Aceh. Pangeran Aceh sangat berkeinginan untuk melamar putri Sri Pandan. Raja Aceh kemudian mengirim utusan ke kerajaan Teluk Dalam untuk memberitahu perihal lamaran Pangeran Aceh terhadap Putri Sri Pandan. Raja Simagolong merasa gembira dengan kedatangan utusan dari kerajaan Aceh. Ia sangat setuju jika putri Sri Pandan menikah dengan Pangeran Aceh. Namun demikian ia tidak serta merta menerima lamaran tersebut. Ia menyerahkan keputusan ini kepada putrinya, Sri Pandan.

“Aku akan mengirimkan utusan ke Kerajaan Aceh jika putriku menerima lamaran pangeran Aceh.” kata Raja Simangolong pada utusan Kerajaan Aceh.

Setelah utusan Kerajaan Aceh pergi, Raja Simangolong memanggil putrinya. “Putriku, maukah engkau menerima lamaran dari Pangeran Aceh? Ayahanda sangat berharap engkau mau menjadi istri Pangeran Aceh agar hubungan kedua kerajaan bisa terjalin baik.” kata Raja Simagolong kepada Sri Pandan.
Sri Pandan hanya terdiam tidak menjawab. Ia menundukkan kepala lalu menangis.

“Ada apa anakku? Mengapa engkau menangis?” tanya Raja Simangolong.
“Maaf ayah, bukannya hamba tak mau berbakti kepada orang tua, tapi hamba telah lama menjalin kasih dengan pemuda lain. Hamba mencintainya. Sekali lagi maaf ayah.” kata Sri Pandan terbata-bata.
“Siapa pemuda yang engkau maksud?” Raja Simangolong mulai gusar.
“Hobatan ayah.” jawab Sri Pandan.
“Apa? Hobatan pembantu setia kita?” Raja Simangolong tersentak kaget.
“Benar, ayahanda.” kata Sri Pandan.

Raja Simangolong marah mendapati kenyataan putrinya telah menjalin kasih dengan Hobatan, pembantu kerajaan. “Dengar baik-baik anakku, lupakan Hobatan. Terimalah lamaran Pangeran Aceh. Jika engkau tak mau memutuskan hubunganmu dengan Hobatan, niscaya akan ayah usir Hobatan.” kata Raja Simangolong tegas.

Hobatan Menolak Permintaan Sri Pandan

Sri Pandan merasa tidak berdaya mendengar perintah ayahandanya. Ia segera menemui Hobatan untuk mengajaknya untuk pergi bersama meninggalkan istana kerajaan. Di luar dugaan Hobatan justru menolak ajakan Sri Pandan. Hobatan menyarankan agar Sri Pandan menerima lamaran Pangeran Aceh. “Sebaiknya engkau menerima lamaran Pangeran Aceh. Hal itu lebih baik bagi dirimu. Engkau akan menjadi seorang permasuri.” kata Hobatan.

Sri Pandan sangat kecewa dengan jawaban Hobatan, laki-laki yang ia cintai. “Baiklah Hobatan, jika begitu keinginanmu. Aku akan terjun ke lubuk daripada harus menjadi istri laki-laki yang tak aku cintai. Aku akan setia dengan cintaku padamu! Aku akan menunggumu di lubuk!” ujar Sri Pandan seraya bergegas pergi.

Sri Pandan Melompat Ke Dalam Lubuk

Sri Pandan kemudian berlari memasuki kamarnya untuk berkemas-kemas. Dibawanya beberapa lembar pakaian juga seluruh perhiasan emas miliknya. Ia kemudian pergi meninggalkan istana kerajaan menuju lubuk sungai Asahan. Sesampainya di lubuk sungai Asahan, Sri Pandan melemparkan seluruh barang bawaannya ke dalam lubuk yang dalam. Pakaian berikut seluruh perhiasan emasnya ia lemparkan seraya berkata “Tak akan ada lagi wanita cantik di negeri ini.” Sri Pandan kemudian melompat ke dalam lubuk sungai Asahan. Ia membawa serta cintanya pada Hobatan ke dalam lubuk.

Tidak lama kemudian, di istana kerajaan timbul kegemparan. Sang Raja dan Permaisuri tidak menemukan Sri Pandan, putri mereka. Raja Simangolong lantas memanggil Hobatan untuk mencari tahu.
Di depan Raja Simangolong, Hobatan menceritakan pembicaraannya dengan Sri Pandan. Ia mengatakan bahwa Sri Pandan hendak melompat ke lubuk sungai Asahan karena kecewa terhadap dirinya. Hobatan mengakui telah menganjurkan Sri Pandan untuk menerima lamaran Pangeran Aceh.

Mendengar pengakuan Hobatan, segera Raja Simangolong beserta para prajurit pergi menuju lubuk sungai Asahan. Raja memerintahkan para prajuritnya untuk menyelam ke lubuk dalam itu untuk mencari Sri Pandan. Tapi setelah beberapa lama, mereka tidak berhasil menemukan putri raja. Raja Simangolong sangat sedih telah kehilangan putri kesayangannya. Ia sangat menyesal telah memaksakan kehendak pada Sri Pandan. Semenjak kejadian itu, lubuk tersebut dinamakan Lubuk Emas karena putri Sri Pandan terjun dengan membawa banyak perhiasan emas.

Nai Manggale



Alkisah dahulu kala di Sumatera Utara, hidup seorang pembuat patung bernama Datu Panggana. Ia dikenal sebagai seorang pematung handal. Hasil patung buatannya sangat halus juga nampak sangat mirip aslinya. Seperti patung hewan, tumbuhan maupun patung berbentuk manusia, hasilnya pasti akan sangat mirip aslinya. Nama Datu Panggana menjadi sangat terkenal sehingga banyak penduduk memesan patung kepadanya.

Datu Panggana Membuat Patung Nai Manggale

Menurut legenda, di suatu hari, Datu Panggana pergi ke hutan, mencari kayu untuk ia gunakan membuat patung. Setelah mendapat kayu sesuai keinginannya, Datu Panggana kemudian pulang ke rumahnya. Kemudian Ia mulai bekerja membuat patung berbentuk perempuan. Datu Panggana bekerja siang malam membuat patung tersebut tanpa melihat model. Dalam bekerja Ia hanya membayangkan sesosok perempuan cantik. Semua perhatiannya dicurahkan pada patung tersebut, hingga akhirnya selesai juga patung tersebut, sebuah patung berbentuk seorang perempuan sangat cantik wajahnya. Datu Panggana pun sangat terkejut dengan kecantikan patung buatannya.

Bao Partigatiga Memberikan Pakaian Nai Manggale

Saat itu lewatlah seorang laki-laki di depan rumah Datu Panggana. Laki-laki tersebut bernama Bao Partigatiga. Ketika melihat patung perempuan cantik, Bao Partigatiga sangat terkejut melihat kecantikannya. Ia pun memuji keahlian Datu Panggana. Kebetulan Bao Partigatiga membawa pakaian serta perhiasan perempuan. Ia kemudian memakaikan pakaian serta perhiasan yang ia bawa pada patung perempuan tersebut. Nampak semakin cantiklah juga semakin menyerupai manusia patung tersebut setelah didandani oleh Bao Partigatiga. Datu Panggana dan Bao Partigatiga memandangi patung tersebut dengan takjub.
Setelah puas mamandangi patung tersebut, Bao Partigatiga kemudian berusaha melepaskan pakaian dan perhiasan miliknya dari patung tersebut. Keanehan pun terjadi, Bao partigatiga tidak mampu melepaskannya. Seolah-olah patung tersebut menolaknya. Bao Partigatiga pun marah pada Datu Panggana. Ia meminta Datu Panggana untuk menghancurkan patung tersebut agar Ia bisa melepaskan pakaian dan perhiasan miliknya.
“Hai Datu Panggana! Aku tak bisa mengambil perhiasan milikku. Cepat Kau hancurkan patungmu buatanmu! Aku mau pulang sekarang.” kata Bao Partigatiga marah.
“Enak saja Kau suruh Aku hancurkan patung milikku. Salahmu sendiri! Siapa menyuruh Engkau kenakan pakaian dan perhiasan milikmu.” jawab Datu Panggana.
Mereka berdua bertengkar hebat karena masalah tersebut. Untuk menghindari perkelahian, Bao Partigatiga akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia meninggalkan pakaian juga perhiasan miliknya menempel pada patung milik Datu Panggana.
Sepeninggal Bao Partigatiga, Datu Panggana kemudian berusaha membawa patung perempuan cantik itu ke dalam rumahnya. Lagi-lagi keanehan terjadi, Datu Panggana tidak mampu memindahkan patung buatannya tersebut ke dalam rumah. Karena kesal, Ia akhirnya meninggalkan patung tersebut di luar rumah.

Datu Partoar Berdoa Agar Nai Manggale Menjelma Menjadi Manusia

Seorang laki-laki bernama Datu Partoar lewat di depan patung perempuan cantik tersebut. Sama seperti Bao Partigatiga, Ia sangat takjub melihat kecantikannya. Ia kemudian berdoa kepada Dewata agar mengubah patung perempuan tersebut menjadi seorang manusia. Sang Dewata mengabulkan permohonan Datu Partoar, dalam sekejap patung perempuan cantik tersebut menjelma menjadi seorang wanita cantik jelita.
Datu Partoar gembira. Ia kemudian mengajak gadis perempuan cantik jelmaan patung untuk ikut ke rumahnya. Gadis itu pun bersedia. Sesampainya di rumah, istri Datu Partoar sangat gembira menyambut kedatangan gadis cantik tersebut. Ia kemudian memberinya nama Nai Manggale. “Karena Engkau belum memiliki nama, Engkau kuberi nama Nai Manggale.” Nai Manggale senang diterima hangat oleh keluarga Datu Partoar. Ia kemudian menceritakan bahwa dirinya adalah seorang patung yang ditakdirkan oleh Dewata menjelma menjadi manusia karena doa Datu Partoar. Sejak saat itu Nai Manggale tinggal bersama keluarga Datu Partoar. Nai Manggale telah dianggap sebagai anak oleh mereka.

Berebut Nai Manggale

Berita tentang sebuah patung menjelma menjadi seorang gadis cantik bernama Nai Manggale akhirnya terdengar di telinga Datu Panggana. Ia pun bergegas menuju rumah Datu Partoar. Terperanjatlah Ia saat mengetahui sosok Nai Manggale ternyata adalah patung buatannya dulu. “Nai Manggale harus ikut denganku karena sebelum menjadi manusia ia adalah sebuah patung buatanku.” kata Datu Panggana kepada Datu Partoar.
“Tak bisa begitu! Memang benar Ia adalah patung buatanmu, tapi aku menemukannya tersia-sia diluar rumah. Aku juga yang berdoa pada Sang Dewata agar patung buatanmu menjadi manusia. Jadi sudah sepantasnya Nai Manggale tinggal bersamaku.” kata Datu Partoar.
Pertengkaran diantaranya keduanya semakin runcing dengan munculnya Bao Partigatiga. “Pakaian dan perhiasan yang dikenakan Nai Manggale adalah kepunyaanku. Jadi Nai Manggale seharusnya tinggal bersamaku.” kata Bao Partigatiga.
Perselisihan diantara ketiganya semakin lama semakin memanas. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Ketiganya merasa berhak memiliki Nai Manggale dengan alasan masing-masing. Karena tidak ada jalan keluar, ketiganya lantas sepakat mengadukan masalah tersebut kepada Aji Bahir, sesepuh desa mereka.
Aji Bahir terkenal sebagai sosok cerdik bijaksana. Ia dikenal mampu memberikan jalan penyelesaian bagi orang-orang yang tengah bertikai. Saran dan pendapatnya dapat diterima orang-orang yang mengadu kepadanya.
Setelah mendengarkan dengan seksama penjelasan dari ketiganya, Aji Bahir kemudian memberikan saran. “Karena Datu Partoar memohon kepada Sang Dewa hingga akhirnya Nai Manggale menjelma menjadi seorang manusia, maka Datu Partoar layak menjadi ayah bagi Nai Manggale.” kata Aji Bahir.
“Datu Panggana adalah pembuat patung Nai Manggale sebelum menjadi manusia, maka Ia berhak menjadi paman Nai Manggale. Kata Aji Bahir kepada mereka bertiga.
“Sedangkan Bao Partigatiga, usianya masih muda. Ia pantas menjadi kakak Nai Manggale.” kata Aji Bahir lagi.
Ketiganya kemudian menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Ketiganya menjadi lega karena masalah mereka telah selesai. Mereka juga merasa bahagia karena bisa bersaudara dengan kehadiran Nai Manggale. Kini Nai Manggale yang kecantikannya terkenal diantara suku-suku Tapanuli, hidup berbahagia bersama kedua orang tuanya, pamannya dan juga kakaknya.

Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir



Legenda Danau Toba & Pulau Samosir berangkat dari cerita rakyat daerah Sumatera Utara. Menceritakan kisah pemuda miskin yang menikahi wanita cantik jelmaan ikan. Setelah menikah, si pemuda miskin tersebut melanggar janji yang diucapkannya saat menikah sehingga mengakibatkan terbentuknya Danau Toba.

Pada jaman dahulu hidup seorang pemuda yatim piatu yang miskin. Ia tinggal di sebuah lembah subur. Sehari-hari ia menghidupi dirinya dengan cara bertani & mencari ikan di sungai yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Hasil bertani beserta ikan hasil memancing ia masak untuk dijadikan lauk makanannya. Selama ini mudah saja baginya mendapatkan ikan dari sungai yang berair jernih tersebut.

Suatu sore, sepulangnya dari ladang, ia pergi memancing di sungai. Setelah sekian lama memancing, ia tak kunjung mendapatkan ikan. Kejadian seperti ini belum pernah dialaminya. Ahirnya ia menarik pancingnya kemudian memutuskan pulang ke rumah. Namun anehnya ketika pancing ditarik, seekor ikan tiba-tiba menyambarnya. Hatinya senang ketika melihat seekor ikan mas cantik tergantung di ujung tali pancingnya. Si pemuda bergegas pulang ke rumah untuk memasak ikan tersebut.

Setibanya di rumah, si pemuda menaruh ikan mas di sebuah wadah. Ia segera menyiapkan kayu bakar untuk memasak. Ternyata kayu bakar yang dimiliki si pemuda telah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar di belakang rumahnya. Setelah mengambil beberapa potong kayu bakar dia kembali ke dapur untuk memasak.

Betapa terkejutnya si pemuda, sesampainya di dapur ia mendapati ikan mas telah hilang. Namun anehnya di dekat tempat ikan mas tersebut terhampar beberapa keping uang mas. Karena kebingungan, si pemuda kemudian masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya pemuda tersebut ketika melihat seorang wanita cantik di dalam kamarnya.

“Siapakah engkau hai wanita cantik? Darimana asalmu? Kenapa engkau ada di dalam rumahku?” Tanya si petani keheranan.
“Aku adalah ikan mas hasil tangkapanmu tadi, sedangkan uang emas di atas meja adalah penjelmaan dari sisik tubuhku.” jawab wanita cantik tersebut.
“Maukah engkau menjadi istriku hai wanita cantik?” tanya si pemuda malu-malu.

Si wanita menunduk & terdiam sejenak, kemudian berkata “Baiklah aku bersedia menjadi istrimu tapi dengan satu syarat engkau tak boleh mengungkit-ungkit asal usulku. Aku penjelmaan ikan.”
“Baiklah, aku menyanggupi syaratmu.” ujar si petani sambil mengganggukkan kepala.

Tak lama kemudian merekapun menikah. Waktu berlalu begitu cepat bagi sepasang suami istri berbahagia. Tanpa terasa mereka telah memiliki seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Setelah berumur 6 tahun, Samosir berubah menjadi anak  sangat nakal & sulit untuk dinasehati. Ibunya sering menyuruhnya mengantarkan nasi untuk ayahnya di ladang, tapi Samosir selalu menolaknya. Ibunya terpaksa mengantarkan sendiri nasi untuk suaminya ke ladang.

Suatu hari, seperti biasanya, Samosir disuruh ibunya mengantarkan nasi ke ladang. Awalnya ia tidak mau, tapi karena ibunya terus memaksa akhirnya ia pun pergi ke ladang mengantarkan nasi untuk ayahnya. Di tengah perjalanan ke ladang, Samosir merasa lapar dan kemudian memakan bungkusan nasi untuk ayahnya hingga habis. Samosir hanya menyisakan tulang ikan. Ia kemudian membungkusnya kembali. Sesampainya di ladang Samosir memberikan bungkusan nasi pada ayahnya. Karena sudah sangat lapar, ayah Samosir langsung membuka bungkusan nasi tersebut. Mengetahui isi bungkusan hanya berisi tulang ikan, si ayah kemudian memarahi Samosir.

“Hai Samosir!, apa yang kamu lakukan? Kenapa di dalam bungkusan hanya berisi tulang ikan? Kau kah yang memakannya?” teriak ayahnya pada Samosir.
“Maaf ayah, di jalan perut saya merasa lapar, jadi saya makan nasi punya ayah.” kata Samosir ketakutan.
Si ayah marah besar kemudian menampar pipi anaknya sambil berkata bahwa anaknya adalah anak ikan.

“Memang benar-benar kamu ini keterlaluan, anaknya ikan!”
Samosir menangis karena ditampar ayahnya. Ia berlari pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, Samosir bertanya pada ibunya apakah ia memang benar anak ikan.
“Ibu…benarkah apa yang dikatakan ayah bahwa aku anaknya ikan?”

Sang ibu kaget mendengar pertanyaan anaknya. Sambil menangis ia memeluk Samosir. Sang ibu berkata bahwa ayahnya telah melanggar sumpah.
“Ayahmu telah melangar sumpahnya. Ia bersumpah tak akan mengungkit asal-usul ibu. Sekarang ibu harus kembali ke alam ibu.”

Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap, petir menyambar-nyambar disusul hujan deras. Samosir dan ibunya hilang tak berbekas, sedangkan dari bekas telapak kaki keduanya keluar air sangat deras. Tidak lama kemudian tempat tersebut tergenang air membentuk sebuah danau. Sementara si ayah tidak bisa menyelamatkan dirinya. Dia mati tenggelam ke dalam danau. Masyarakat kemudian menyebut danau tersebut dengan nama Danau Tuba. Sedangkan pulau kecil yang terletak di tengah danau disebut dengan nama pulau Samosir. Kata tuba memiliki arti tidak tahu balas budi. Seiring waktu, masyarakat lambat laun menyebutnya Danau Toba.

Legenda Batu Gantung



Pada jaman dahulu kala di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba hiduplah sepasang suami-isteri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain cantik, Seruni juga tergolong sebagai anak yang rajin karena selalu membantu kedua orang tuanya ketika mereka sedang bekerja di ladang yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu hari, Seruni harus bekerja di ladang seorang diri karena kedua orang tuanya sedang ada keperluan di desa tetangga. Ia hanya ditemani oleh anjing peliharaannya yang diberi nama Si Toki. Sesampainya di ladang Seruni hanya duduk termenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sementara anjingnya, Si Toki, ikut duduk disamping sambil menatap wajah majikannya yang tampak seperti sedang menghadapi suatu masalah. Sesekali sang anjing menggonggong untuk mengalihkan perhatian Seruni apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar ladang.

Sebenarnya, beberapa hari terakhir Seruni selalu tampak murung. Hal ini disebabkan karena Sang Ayah akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang masih tergolong sepupunya sendiri. Padahal, ia telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda di desanya dan telah berjanji pula akan membina rumah tangga. Keadaan ini membuatnya menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, dan mulai berputus asa. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, namun di sisi lain ia juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya.

Setelah merenung beberapa saat dan tanpa menghasilkan apa-apa, Seruni beranjak bangkit dari tempat ia duduk. Dengan berderai air mata ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya ia sudah sangat berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Danau Toba. Sementara Si Toki yang juga mengikuti majikannya menuju tepi danau hanya bisa menggonggong karena tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam benak Seruni.

Saat berjalan ke arah tebing di tepi Danau Toba, tiba-tiba ia terperosok ke dalam sebuah lubang batu besar hingga masuk ke dasarnya. Dan, karena berada di dasar lubang yang sangat gelap, membuat gadis cantik itu menjadi takut dan berteriak minta tolong kepada anjing kesayangannya. Namun karena Si Toki hanyalah seekor binatang, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali terus-menerus menggonggong di sekitar mulut lubang.

Akhirnya gadis itu pun semakin putus asa dan berkata dalam hati, “Ah, lebih baik aku mati saja.”

Setelah berkata seperti itu, entah mengapa dinding-dinding lubang tersebut mulai merapat. “Parapat…! Parapat batu!” seru Seruni agar dinding batu semakin merapat dan menghimpit tubuhnya.

Melihat kejadian itu Si Toki langsung berlari ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampainya di rumah Si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan sudah berada di rumah. Sambil menggonggong, mencakar-cakar tanah dan mondar-mandir di sekitar majikannya, Si Toki berusaha memberitahukan bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

Sadar akan apa yang sedang diisyaratkan oleh si anjing, orang tua Seruni segera beranjak menuju ladang. Keduanya berlari mengikuti Si Toki hingga sampai ke tepi lubang tempat anak gadis mereka terperosok. Ketika mendengar jeritan anaknya dari dalam lubang, Sang Ibu segera membuat obor sebagai penerang karena hari telah senja. Sementara Sang Ayah berlari kembali menuju desa untuk meminta bantuan para tetangga.

Tak berapa lama kemudian, sebagian besar tetangga telah berkumpul di rumah ayah Seruni untuk bersama-sama menuju ke lubang tempat Seruni terperosok. Mereka ada yang membawa tangga bambu, tambang, dan obor sebagai penerangan.

Sesampainya rombongan di ladang, sambil bercucuran air mata Ibu Seruni berkata pada suaminya, “Pak, lubangnya terlalu dalam dan tidak tembus cahaya. Saya hanya mendengar sayup-sayup suara anak kita yang berkata: parapat, parapat batu…”

Tanpa menjawab pertanyaan isterinya, Ayah Seruni segera melonggok ke dalam lubang dan berteriak, “Seruniii…! Serunii…!”

“Seruni…anakku! Kami akan menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.

Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu di sekelilingnya untuk merapat dan menghimpitnya.

Warga yang hadir di tempat itu juga berusaha untuk membantu dengan mengulurkan seutas tambang hingga ke dasar lubang, namun sama sekali tidak disentuh atau dipegang oleh Seruni.

Merasa khawatir, Sang Ayah memutuskan untuk menyusul puterinya masuk ke dalam lubang, “Bu, pegang obor ini! Saya akan turun menjemput anak kita!”

“Jangan gegabah, Pak. Lubang ini sangat berbahaya!” cegah sang isteri.

“Benar Pak, lubang ini sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang tetangganya.

Setelah ayah Seruni mengurungkan niatnya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan bumi pun bergoncang dahsyat yang membuat lubang secara perlahan merapat dan tertutup dengan sendirinya. Seruni yang berada di dalam lubang akhirnya terhimpit dan tidak dapat diselamatkan.

Beberapa saat setelah gempa berhenti, di atas lubang yang telah tertutup itu muncullah sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Orang-orang yang melihat kejadian itu mempercayai bahwa batu itu adalah penjelmaan dari Seruni dan kemudian menamainya sebagai “Batu Gantung”.

Dan, karena ucapan Seruni yang terakhir didengar oleh warga hanyalah “parapat, parapat, dan parapat”, maka daerah di sekitar Batu Gantung kemudian diberi nama Parapat. Kini Parapat telah menjelma menjadi salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara.

Awal Mula Nama Simalungun



Dahulu, di wilayah Kampung Nagur, Sumatra Utara, terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Tanah Djawo. Kerajaan suku Batak yang bermarga Sinaga ini dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Dalam menjalankan tugas pemerintahan, sang Raja didampingi oleh sejumlah hulubalang yang tangguh dan setia sehingga kerajaan ini aman dan tenteram.  
Sementara itu, di luar wilayah Nagur, terdapat pula dua kerajaan suku Batak yang berlainan marga, yaitu Kerajaan Silou dari marga Purba Tambak dan Kerajaan Raya dari marga Saragih Garingging. Meskipun berlainan marga, kedua kerajaan ini menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Nagur. Rakyat mereka pun senantiasa hidup rukun dan makmur. Kemakmuran ketiga kerajaan kecil itu ternyata menarik perhatian kerajaan-kerajaan lain untuk menguasainya. 
Suatu hari, tersiar kabar bahwa Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa akan datang menyerang Kerajaan Tanah Djawo. Mendengar kabar tersebut, Raja Tanah Djawo segera meminta bantuan kepada Kerajaan Silou dan Kerajaan Raya. Kedua kerajaan itu pun menyatakan kesediaan untuk membantu Kerajaan Tanah Djawo dalam menangkal serangan dari Kerajaan Majapahit. 
Bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Silou dan Kerajaan Raya ternyata sanggup menangkal bahkan mengusir pasukan Majapahit dari wilayah Nagur. Hal yang sama terjadi ketika Kerajaan Silou mendapat serangan dari Kerajaan Aceh. Kedua kerajaan ini, Kerajaan Tanah Djawo dan Kerajaan Raya, membantu Kerajaan Silou hingga akhirnya selamat dari ancaman bahaya.
Suatu ketika, ribuan tentara yang tidak diketahui asalnya datang menyerang ketiga kerajaan tersebut secara bergantian. Pertama-tama, mereka Kerajaan Tanah Djawo, lalu Kerajaan Silou, dan terakhir Kerajaan Raya. Meskipun sudah saling membantu, ketiga kerajaan tersebut akhirnya takluk juga. Serangan itu membuat masing-masing raja terpaksa menyelamatkan diri. Hal yang sama terjadi pula para rakyat yang lari tunggang-langgang menghindari sergapan musuh. Mereka meninggalkan wilayah itu secara berkelompok. Selama masa pelarian, mereka harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran musuh. 
Nasib para pengungsi tersebut sangat menderita. Mereka dilanda kelaparan dan terserang berbagai macam penyakit. Untuk bertahan hidup, setiap kelompok pengungsi mencari tempat tinggal masing-masing yang dirasa aman. Sekelompok pengungsi dari Kampung Nagur kemudian menemukan tanah Sahili Misir yang kini dikenal pulau Samosir, yaitu sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba. Di sanalah mereka menetap dan membuka perladangan untuk bercocok tanam. 
Setelah sekian lama menetap di pulau itu, hidup mereka pun mulai tertata. Bahkan, mereka telah memiliki anak cucu. Suatu ketika, mereka merasa rindu untuk kembali ke kampung halaman di Kampung Nagur. Mereka akhirnya mengadakan musyawarah. 
“Siapa di antara kalian yang ingin kembali ke Kampung Nagur?” tanya seorang sesepuh selaku pemimpin musyawarah.
Mendengar pertanyaan itu, sebagian dari peserta enggan untuk kembali ke kampung halaman mereka. 
“Maaf, Bapak-bapak. Kenapa kalian tidak mau ikut bersama kami? Apakah kalian tidak rindu pada kampung halaman?” tanya sesepuh itu kepada mereka.  
“Maaf, Tuan Sesepuh. Sebenarnya kami pun sangat rindu pada kampung halaman. Tapi, kami sudah merasa betah dan nyaman tinggal di pulau ini. Tempat ini sudah seperti kampung halaman sendiri. Lagi pula, siapa yang akan menjaga hewan ternak dan ladang-ladang jika semuanya ikut kembali ke kampung halaman?” jawab salah seorang peserta musyawarah.
“Benar Tuan Sesepuh,  anak dan cucu kami pun merasa senang tinggal di pulau ini,” imbuh seorang peserta musyawarah lainnya. 
“Baiklah, kalau begitu. Bagi yang ingin tetap tinggal di sini, ku harap kalian tetap merawat baik-baik tempat ini. Bagi yang ingin pulang ke kampung halaman harap segera mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar sesepuh itu.
Para warga yang berkeinginan kembali ke kampung halaman segera mengadakan persiapan seperlunya. Mereka akhirnya berangkat menuju Kampung Nagur. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba di Kampung Nagur. Saat tiba kampung halaman, beberapa warga terlihat menangis. Mereka teringat pada peristiwa yang menimpa kampung mereka dahulu. Rumah-rumah mereka telah tiada. Hanya tumbuhan semak-belukar dan pepohonan yang terlihat tumbuh dengan subur.
Sima-sima nalungun,” kata mereka.  
Sejak itulah Kampung Nagur berubah nama menjadi Sima-sima Nalungun,yang berarti daerah sunyi sepi. Lama-kelamaan, orang-orang menyebutnya Simalungun.Hingga saat ini, kata Simalungun tetap dipakai untuk menyebut nama sebuah Kabupaten di Provinsi Sumatra Utara. 
Demikian cerita Asal Mula Nama Simalungundari daerah Simalungun, Provinsi Sumatra Utara. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa kerjasama dan saling membantu termasuk sifat terpuji yang patut diteladani. Sifat ini ditunjukkan oleh ketiga kerajaan tersebut di atas. Meskipun berbeda marga, mereka senantiasa saling membantu manakala salah satu di antaranya tertimpa musibah. Selain itu, cerita di atas juga mengajarkan kepada kita tentang cinta terhadap kampung halaman. Kita tidak boleh melupakan siapa diri kita dan darimana kita berasal.