Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2016

Cerita Mirah dari Marunda

 
Pada suatu malam dimasa penjajahan Belanda, terjadi sebuah perampokan di daerah Kemayoran. korbannya adalah Babah Yong. Babah Yong diikat diruang tengah dan barang-barang berharga miliknya dibawa kabur oleh para perampok.
Tuan Ruys, pengusaha daerah Kemayoran, segera menyelidiki tempat perampokan. Bek Kemayoran juga datang. Menurut keterangan beberapa orang yang melihat peristiwa itu, Sepintas wajah perampok yang kabur mirip dengan Asni. Mereka mencurigai Asni sebagai pelaku perampokan itu. Tuan Ruys memerintahkan Bek Kemayoran untuk segera menangkap Asni.
Keesokan harinya, Bek Kemayoran menangkap dan menyerahkan Asni kepada Tuan Ruys. Namun, beberapa saksi menjelaskan bahwa malam itu Asni ada di rumah. Karena tidak ada bukti yang kuat, maka Asni dibebaskan dengan syarat ia harus bisa menangkap perampok yang berwajah mirip dengannya. Jika tidak berhasil, Asni akan dipenjara.
Sementara itu, di daerah Marunda ada seorang gadis cantik bernama Mirah. Ibunya sudah lama meninggal. Ia tinggal bersama ayahnya yang bernama Bang Bodong. Saat itu di daerah Marunda sering terjadi perampokan.
Bang Bodong adalah seorang jagoan yang sangat ditakuti oleh para perampok dan disegani oleh masyarakat Marunda. Selain kehebatan ilmu bela diri yang dimiliki, Bang Bodong terkenal sebagai orang yang selalu melindungi rakyat kecil.
Bang Bodong merasa prihatin dengan keadaan kampung Marunda. Usianya semakin tua dan tidak memiliki anak laki-laki yang bisa mewarisi ilmu bela diri. Sementara penguasa Belanda tidak peduli dengan kekacauan yang meresahkan masyarakat.
Bang Bodong memanggil Mirah dan menceritakan keadaan kampung yang semakin meresahkan. Bang Bodong khawatir kampung Marunda akan menjadi sarang para perampok. Mendengar kekhawatiran ayahnya, Mirah terpanggil untuk ikut mempertahankan kampung kelahiranya. Mirah minta dilatih ilmu bela diri. Bang Bodong mengabulkan permintaan Mirah. Dalam waktu singkat Mirah telah menguasai semua ilmu yang diajarkan. Tak heran Mirah menjadi pendekar wanita dari Marunda.
 
Melihat Mirah telah menguasai semua ilmu yang diajarkan, hati Bang Bodong merasa puas dan bangga. Diharapkan Mirah dapat mempertahankan daerah Marunda. Namun, Bang Bodong juga merasa sedih karena Mirah sudah semakin dewasa dan belum berkeluarga. Bang Bodong berharap Mirah mau segera menikah. Mirah menolak karena khawatir tidak dapat merawat ayahnya dengan baik.
Bang Bodong terus mendesak Mirah untuk menikah. Akhirnya, Mirah setuju untuk menikah, tetapi dengan syarat calon suaminya bisa mengalahkan ilmu silatnya. Mendengar persyaratan itu, Bang Bodong segera mengadakan sayembara silat. laki-laki yang bisa mengalahkan Mirah dalam ilmu silat berhak mempersunting putrinya sebagai istri.
Para pendekar dari berbagai daerah berdatangan untuk ikut serta dalam sayembara, termasuk Tirta, seorang jagoan dari Karawang. Wajah Tirta mirip Asni, tetapi ia suka melakukan keonaran dan perampokan di berbagai daerah. Akan tetapi, Tirta dapat dikalahkan oleh Mirah. Tirta mengaku kehebatan Mirah. Hingga sayembara berakhir tak seorang pun dapat mengalahkan Mirah.
Sementara itu, Asni terus mengembara dari satu daerah kedaerah lain untuk mencari perampok yang berwajah mirip dengannya. Suatu hari, Asni tiba di kampung Marunda. Asni disangka perampok dan terlibat perkelahian dengan penjaga kampung.
Dua penjaga kampung dapat dikalahkan oleh Asni. Mereka lari mengadu kerumah Bang Bodong. Seketika Bang Bodong berlari menemui Asni. Pertarungan Asni dan Bang Bodong tak terelakkan. karena usianya yang sudah tua, Bang Bodong dapat dikalahkan oleh Asni.
Mendengar ayahnya dikalahkan oleh Asni, Mirah segera menyerang Asni. Mulanya Asni tidak mau melawan musuh seorang perempuan. tetapi, karena Mirah terus menyerang akhirnya Asni melawan.
Kehebatan silat Mirah ternyata masih belum sebanding dengan kehebatan Asni. Mirah dibuat kewalahan. Mirah sering jatuh tak berdaya. Mirah akhirnya mengaku kalah dan Asni tersenyum-senyum.
 
Bang Bodong yang menyaksikan pertarungan itu segera menghampiri Mirah dan Asni. Bang Bodong bercerita kepada Asni tentang sayembara silat yang ia adakan belum lama ini. Karena Asni berhasil mengalahkan Mirah, ia berhak memperistri Mirah.
Mendengar penjelasan itu hati Asni berbunga-bunga. Ia mendapatkan seorang gadis yang cantik jelita dan pandai dalam ilmu bela diri. tentu saja Asni dengan senang hati menerima Mirah sebagai calon istrinya.
Asni menceritakan tujuannya berkelana adalah untuk mencari perampok yang berwajah mirip dengannya. Jika tidak dapat menangkap perampok itu, maka Asni akan dipenjara. Bang Bodong tahu orang yang dimaksud itu adalah Tirta.
Tak lama kemudian Bang Bodong menyelenggarakan pernikahan Mirah dan Asni. Pesta itu sangat meriah. Tirta diundang untuk menghadiri pesta itu.
 
Tirta datang menghampiri undangan tersebut dan sangat terkejut melihat Bek Kemayoran, Tuan Ruys dan centeng-centeng Babah Yong. Tirta terkepung. Bek Kemayoran mendekati Tirta dan terjadilah perkelahian. Bek Kemayora dapat dikalahkan oleh Tirta.
Suasana pesta menjadi sangat kacau. Bang Bodong bermaksud melerai tetapi terserempet golok sehingga terluka. Melihat kejadian itu, Mirah segera melepaskan pernak-pernik pakaian pengantinnya dan menyerang Tirta.
Dalam pertarungan ini Tirta dapat dikalahka oleh Mirah. Asni segera menghampiri Tirta. Tirta dapat mengenali dengan baik bahwa Asni adalah adiknya. Mereka berpelukan karena telah lama berpisah. Tirta dan Asni adalah kakak beradik satu ayah lain ibu. Ibu Asni berasal dari Cakung sedangkan ibu Tirta berasal dari Karawang.
  
Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, Tirta menyampaikan bingkisan berupa pending emas kepada Mirah. Tirta menjelaskan bahwa kedatangannya di pesta karena ingin berjumpa dengan Mirah dan ingin mengucapkan selamat.
Beberapa tahun kemudian Asni dan Mirah meninggalkan Marunda. Mereka telah menjadi pasangan suami istri yang bahagia. Mereka tinggal di Kemayoran sampai berusia tua.
Demikianlah kisah Cerita Mirah dari Marunda semoga bermanfaat
 
 

Rabu, 25 Mei 2016

Kisah Rakyat Perjuangan Pangeran Sarif


Pangeran Sarif adalah salah seorang ulama di Betawi. Ia terpaksa menyingkir keluar dari Jayakarta setelah Jayakarta dikuasai Kompeni Belanda. Bersama para ulama dan kekuatan lain yang menentang Kompeni Belanda, Pangeran Sarif menyusun kekuatan secara sembunyi-sembunyi. Ia sangat membenci penjajahan manusia atas manusia lainnya seperti yang dilakukan Kompeni Belanda terhadap bangsanya. Pangeran Sarif yakin, suatu saat kekuatan Kompeni Belanda akan dapat diusir dari Jayakarta.

Dalam pengungsiannya, Pangeran Sarif tetap aktif menyebarkan agama Islam. Ia memberikan pelajaran menulis huruf Arab dan membaca Al Qur’an. Dengan ketinggian ilmu agama yang dimilikinya, Pangeran Sarif juga menjelaskan makna dan tafsir ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Penjelasannya disampaikannya dalam bahasa sederhana yang kerap diselingi dengan humor hingga dapat ditangkap dengan mudah oleh murid-muridnya. Kian bertambah hari kian banyak saja orang yang datang kepada Pangeran Sarif dan meminta menjadi muridnya.

Pangeran Sarif kerap berkeliling dari daerah ke daerah lainnya untuk menyebarkan agama Islam dan juga menyusun kekuatan untuk menentang Kompeni Belanda. Pada suatu hari Pangeran Sarif menuju daerah Pasar Minggu. Ia hendak menuju desa Bendungan. Ketika sampai di pinggir kali Ciliwung, gerimis turun.

 Pangeran Sarif segera mengenakan kerudung di kepalanya untuk melindungi kepalanya dari air hujan. Mendadak Pangeran Sarif melihat sebuah perahu yang terlihat menuju arah kota.
Sejenak berbincang-bincang, pemilik perahu menyatakan kepada Pangeran Sarif bahwa ia hendak menuju kota. Pangeran Sarif lalu meminta diri dan secepatnya menyelinap dijalan setapak di antara semak-semak. Pangeran Sarif perlu melakukan tindakan itu untuk menghilangkan jejak. Ia perlu berhati-hati, terutama kepada orang yang hendak menuju kota.

Bisa jadi, orang itu akan melaporkan keberadaannya kepada Kompeni Belanda. Menurut kabar yang didengarnya, dirinya termasuk salah satu orang yang paling dicari oleh pernerintah Kompeni Belanda karena dianggap amat luas pengaruhnya untuk menentang pemerintah Kompeni Belanda.

Seketika Pangeran Sarif menyelinap, si tukang perahu buru-buru mengarahkan perahunya untuk mengikuti Pangeran Sarif. Begitu pula ketika Pangeran Sarif berbelok arah dengan memasuki sebuah terowongan, si tukang perahu buru-buru pula mengikutinya. Terowongan itu tembus hingga ke sungai Sunter di dekat Pondok Gede. Hingga ke daerah itu si tukang perahu terus mengikuti.

Si tukang perahu merasakan keanehan. Terowongan yang tadi dilewatinya terlihat sempit dan gelap. Hingga saat itu ia belum pernah melewatinya. Bahkan, ia belum pernah mendengar adanya terowongan itu. Ketika menyadari keanehan itu, ia pun bermaksud untuk kembali ke sungai Ciliwung dengan memasuki terowongan sempit lagi gelap itu. Benar-benar mengherankan, terowongan itu sudah tidak ada lagi!

Si tukang perahu lantas menghampiri Pangeran Sarif. Katanya, “Ampunilah saya wahai Wan Haji. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk dengan mengikuti Wan Haji.”
“Jangan meminta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Sarif “Mintalah ampun kepada Allah, karena hanya Allah yang pantas engkau mintai ampun.”

Si tukang perahu lantas memohon ampun kepada Allah dengan cara mengikuti ucapan Pangeran Sarif. Katanya kemudian, “Saya ingin menjadi murid Wan Haji. Saya ingin mendapatkan ilmu dan pengetahuan agama Islam yang dapat saya terapkan dalam kehidupan saya:’

Pangeran Sarif bersedia mengajarkan agama Islam kepada si tukang perahu. Sejak saat itu si tukang perahu menjadi murid sekaligus pengikut Pangeran Sarif yang sangat setia. Adapun terowongan gaib yang sempat dilewati si tukang perahu di kemudian hari disebut Lubang Buaya oleh penduduk yang mengetahui ceritanya.

Selasa, 24 Mei 2016

Si Pitung


Pada zaman dahulu, di sebuah daerah Rawa Belong, lahirlah seorang pemuda saleh bernama Si Pitung. la adalah pemuda yang rajin mengaji pada Haji Naipin seorang ulama yang sangat terkenal dimasa itu. Selain itu ia dilatih silat selama bertahun-tahun hingga kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri sangat meningkat dan luar biasa. Karena bakatnya dalam ilmu beladiri, kemampuan Pitung berada jauh diatas rata-rata para pesilat yang ada di Betawi pada masa itu.

Si Pitung hidup di zaman penjajahan Belanda, Si Pitung terketuk hatinya untuk membela rakyat Indonesia. la merasa iba menyaksikan penderitaan yang terus dialami rakyat kecil dan lemah. Sementara itu para kompeni atau orang-orang Belanda terus berkuasa juga sekelompok Tauke dan para Tuan tanah, mereka semua adalah para penguasa yang bergelimang harta. Harta kekayaan mereka termasuk rumah dan ladang dijaga oleh para centeng yang kuat dan galak.

Kemudian Si Pitung merencanakan perampokan terhadap para penguasa itu untuk membantu rakyat miskin. la dibantu oleh teman-temannya yaitu Si Rais dan Si Jii.

“Kami siap membantumu, Pitung!” ujar Si Rais penuh semangat yang kmeudian diikuti anggukan setuju Si Jii.

“Baiklah, kalau begitu mari susun siasat. Jika kita berhasil merampok, kita akan bagi-bagikan hasilnya pada rakyat-rakyat kecil yang membutuhkan!” ucap Si Pitung yakin, lalu ia dan kedua temannya Iangsung mengatur siasat untuk merampok. Teruslah ia dan teman-temannya merampok para penguasa itu, setelah mendapat hasil rampokannya, Si Pitung dan teman-temannya langsung membagi-bagikan pada rakyat miskin, di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakannya sepikul beras. Diberikannya juga santunan berupa uang kepada keluarga yang dibelit hutang.

Anak yatim pun tak luput dari penglihatannya, diberikannya bingkisan baju dan bermacam-macam hadiah lainnya. Kejadian itu terus berlanjut, sampai para kompeni, orang-orang Tauke dan Tuan tanah menjadi geram dan ingin menangkapnya. Namun tak pernah berhasil karena Si Pitung dan kelompoknya bukan lah orang-orang sembarangan.

Banyak orang mengatakan keberhasilan Si Pitung dan teman-temannya dalam merampok ada dua hal yaitu yang pertama ia memiliki ilmu silat, pandai bela diri dan kebal, sebab kabarnya tubuh Si Pitung kebal terhadap peluru.

Dan yang kedua adalah orang-orang yang dibantunya tidak mau mengatakan dimana Si Pitung kini berada setiap para kompeni dan orang kaya perampokan Si Pitung membujuk atau memaksa rakyat.
Karena geram melihat kesetiaan rakyat pada Si Pitung, maka para kompeni dan para orang kaya itu menggunakan kekerasan memaksa para rakyat kecil membuka mulut. Hingga suatu hari kompeni, orang-orang Tauke dan para Tuan tanah berhasil mendapatkan informasi tentang orang tua Si Pitung dan Haji Naipin, maka kompeni dan para orang-orang kaya menyandera orang tua Si Pitung dan Haji Naipin.

“Katakan!!! Atau kau kutembak!” teriak para kompeni dan orang-orang kaya pada orang tua si Pitung dan Haji Naipin. Namun mereka tak mau menjawabnya. Akhirnya mereka disiksa dan terus disiksa dengan sangat kejam. Dengan siksaan yang amat berat akhirnya para kompeni dan orang-orang kaya itu mendapatkan informasi dimana Si Pitung berada juga rahasia kekebalan tubuhnya terhadap peluru.

Polisi para kompeni itu pun berhasil menyergap persembunyian Si Pitung dan teman-temannya. Si Pitung dan teman-temannya tak tinggal diam, mereka pun melawan sekuat tenaga. Namun informasi tentang rahasia kekebalan tubuh Si Pitung sudah diketahui para polisi kompeni yaitu dengan melempari Si Pitung telur-telur busuk lalu ditembak. Lalu tewaslah Si Pitung seketika. Kehilangan sudah pahlawan pembela rakyat kecil, namun meskipun demikan Si Pitung adalah kebanggaan masyarakat Jakarta.

Jumat, 20 Mei 2016

Burung Cucak Hijau dan Seekor Komodo

Suatu hari seekor burung cucak hijau pergi kesebuah tempat yang cukup indah tempat itu di tepi danau dan dipenuhi oleh para komodo besar yang sering mengeluarkan dan memasukan lidahnya dan ketika burung itu bertengger di sebuah pohon, sang burung mulai bernyanyi dengan sangat merdu, saking merdunya suara sang burung seekor komodo bergoyang ke kanan ke kiri dengan mata terpejam dan seyum diwajahnya yang bahagia menikmati suara burung cucak yang merdu, sang burung merasa senang melihat hal itu.

Kedua hewan tersebut seperti penyanyi yang handal dan penari yang handal pula, tapi tidak lama kemudian sang burung menghentikan nyanyian nya yang merdu dan sang komodo pun berhenti bergoyang “kenapa burung itu menghentikan nyanyiannya.” pikir sang komodo dengan heran, sang komodo menghampiri sang burung dan berkata “Selamat siang tuan burung yang anggun, nyanyianmu sangat merdu hingga tubuhku serasa bergoyang dengan sendirinya kesana kemari mengikuti alunan nyanyianmu.” sapa sang komodo “selamat siang tuan komodo, sungguh bahagia hatiku mendengar sanjungamu tapi suaraku tidaklah sebagus tarianmu itu.” kata sang burung, mereka bercengkrama dengan asiknya sehingga mereka menjadi semakin akrab dan akhirnya mereka menjadi teman dekat.

Setiap hari mereka bertemu, mereka bernyanyi dan menari hingga suatu hari seekor kadal bermulut besar datang menghampiri seekor komodo yang tengah asik bergoyang “Tuan komodo apa yang sedang kau lakukan, sepertinya kau sedang menggoyang goyangkan tubuhmu yang gempal itu.” kata sang kadal dengan nada sinis “sebaiknya kau belajar bernyanyi kepada sang burung yang berwarna hijau dan menjengkelkan itu, karena suaranya membuatku sangat mual.” kata sang kadal lalu dia berkata lagi “tapi meskipun kau belajar bernyanyi dan bergoyang rasanya hal itu tidak akan kau lakukan dengan baik ketika kau menari dalam alunan nyanyian burung itu kau akan merusak nada-nadanya yang indah apalagi jika kau bernyanyi pasti suaramu buruk sekali.” mendengar ucapan dari sang kadal begitu menyakitkan hati sang komodo ingin sekali menerkamnya namun hal itu tidak dilakukan karena hanya gara-gara ocehannya yang tidak karuan sang komodo harus menerkamnya.

Keesokan harinya sang komodo dan sang burung kembali bertemu mereka bernyanyi dan menari sehabis mencari makan dan tidak lama kemudian datanglah sang kadal bermulut besar itu, celotehnya sangat membuat hati sang komodo tersayat-sayat dia meledek sang komodo tanpa henti sambil tertawa terbahak-bahak namun sang komodo tidak mengeluarkan sepatah kata pun, sang komodo hanya menoleh ke arah sang kadal lalu tersenyum, sang kadal merasa heran dengan perilaku komodo yang biasanya temperamental. Saat komodo tersenyum seekor ular menyambar sang kadal dari arah samping sambil berkata “terimakasih tuan komodo aku tidak perlu bersusah payah mencari makanan.” bawalah pergi makhluk bermulut besar itu dari sini.” sang kadal meronta-ronta melepaskan diri dari sang ular namun dia tidak mampu melepaskannya.

Kamis, 12 Mei 2016

Murtado Macan Kemayoran


Murtado tinggal di daerah Kemayoran. Parasnya cukup tampan, tapi yang terpenting adalah sikapnya yang santun dan berani membela orang yang lemah. Saat itu, keadaan di daerah Kemayoran kurang aman. Selain karena masih dijajah oleh Belanda, banyak pula gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang jahat. Mereka memeras rakyat kecil dan merampas hasil pertaniannya.

Sejak kecil, Murtado dididik dengan baik oleh ayahnya. Tak hanya ilmu agama dan pelajaran sekolah, tapi juga ilmu bela diri. Meskipun menguasai ilmu bela diri dengan baik, Murtado tak pernah sekali pun menyalahgunakan kemampuannya itu.

Semakin hari keadaan di daerah Kemagoran semakin tak aman. Penguasa Belanda semakin merajalela. Pemimpin daerah Kemagoran pun dijadikan kaki tangan mereka. Pemimpin yang disebut dengan Bek itu sebenarnya orang pribumi, namanya Bek Lihun.

Ia dibantu oleh Mandor Bacon. Meskipun pribumi, mereka lebih membela kepentingan Belanda dari pada kepentingan penduduk Kemayoran.

Murtado sebenarnya tak tahan melihat perilaku Bek Lihun dan Mandor Bacan yang semena-mena, namun ia berusaha menahan diri. Suatu hari, kemarahannya memuncak, karena melihat Mandor Bacan yang berani menggoda kekasih Murtado pada acara derapan padi. Saat itu, Mandor Bacon ditunjuk sebagai pengawas jalannya acara itu.

“Hei Mandor Bacan, berani sekali kau mengganggu kekasihku,” teriaknya sambil menghadang Iangkah Mandor Bacan.

Mandor Bacan menanggapinya dengan sinis, “Memangnya kenapa? Aku bebas mengukai wanita mana pun yang aku mau,” jawabnya.

Murtado segera mengeluarkan jurus-jurus bela dirinya. Mandor Bacan tak mau kalah, tapi Murtado dengan mudah mengalahkannya. Mereka bukanlah lawan yang seimbang. Tak terima dengan perlakuan Murtado, Mandor Bacan melaporkan kejadian itu pada Bek Lihun. Bek Lihun merasa tersinggung dengan tingkah laku Murtado, ia pun mencari cara untuk mencelakai Murtado. Berbagai cara telah dilakukan untuk menjebak dan mengalahkan Murtado, tapi semuanya gagal. Akhirnga Bek Lihun menyerah, ia pun mengakui kehebatan Murtado dan memilih untuk bersahabat dengannya.

Sebagai seorang kesatria, Murtado menerima tawaran persahabatan dari Bek Lihun. Ia tak menyimpan dendam sedikit pun, bahkan bersedia membantu Bek Lihun memberantas kawanan perampok yang dipimpin oleh Warsa.

“Murtado, Belanda sudah menegurku berkali-kali. Aku dianggap tak mampu menjaga keamanan daerah kita ini. Gara-gara Warsa, penduduk kampung kita semakin miskin dan tak mampu membayar pajak. Kau mau, kan membantuku?” pinta Bek Lihun.

Murtado berpikir sejenak. Sebenarnya ia bimbang, membantu Bek Li hun berarti membantu Belanda juga.

“Bek Lihun, camkan kata-kataku. Aku mau membantumu untuk meIawan Warsa, tapi bukan untuk kepentingan Belanda. Aku merasa wajib melindungi penduduk kampung dari kekejian Warsa dan anak buahnya,” kata Murtado.

“Terima kasih, Murtado. Aku tahu, hatimu pasti tak tega melihat penderitaan teman-teman kita ini,” jawab Bek Lihun.
Murtado mulai menyusun strategi. Bersama Saomin dan Sarpin, ia pergi ke markas Warsa dan anak buahnya. Biasanya, Warsa dan anak buahnya berkumpul di daerah Tambun dan Bekasi, tapi malam itu mereka tak ada di sana.

Murtado dan teman-temannya tak kehabisan akal, mereka bertanya pada setiap orang yang mereka jumpai. Akhirnya mereka mendapat informasi kalau Warsa dan anak buahnya sedang berada di daerah Karawang. Tanpa buang-buang waktu lagi, Murtado dan teman-temannya menyusul ke Karawang. Dan terjadilah pertempuran hebat.

Warsa adalah Iawan yang tangguh, ilmu bela dirinya juga hebat. Tak heran jika orang-orang takut padanya.

“Ha… ha… anak ingusan macam kau hendak melawanku? Rasakan jurusku ini!” kata Warsa sambil melayangkan tinju. Namun Murtado tak kalah hebat. Dikerahkannya semua ilmu bela diri yang ia kuasai. Saomin dan 5arpin juga bertarung melawan anak buah Warsa.
Akhirnya kemenangan berpihak pada Murtado. Warsa tewas di tangannya, sementara anak buahnya menyerah kalah.

“Ampuni kami Tuan, kami akan melakukan apa saja yang Tuan pinta, tapi jangan bunuh kami,” kata mereka mengiba-iba.
“Tunjukkan di mana hasil rampokan itu kalian simpan, setelah itu kalian akan aku ampuni,” kata Murtado tegas.

Murtado dan teman-temannya membawa pulang hasil rampokan Warsa ke Kemayoran. Mereka mengembalikannya pada pemiliknya masing-masing. Penduduk Kemayoran sangat gembira. Begitu juga dengan Bek Lihun, ia bahkan melaporkan keberhasilan Murtado pada Belanda.

Penguasa Belanda kagum pada kegigihan dan keberanian Murtado. Atas usul Bek Lihun, penguasa Belanda menawarkan Murtado untuk menjadi pemimpin daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun.
“Maaf Tuan, tapi saya lebih senang menjadi rakyat biasa. Biarkan saya berjuang di jalan saya sendiri,” tolak Murtado dengan halus.
Ya, Murtado tak mau menjadi kaki tangan Belanda. Ia merasa Iebih baik hidup sebagai rakyat biasa dan membantu menjaga keamanan penduduk Kemayoran dengan caranya sendiri. Karena keberaniannya itu, penduduk Kemayoran dan penguasa Belanda menjulukinya “Macan Kemayoran”.

Senin, 09 Mei 2016

Si Jampang



Jampang adalah lelaki Betawi yang hidup pada masa Indonesia masih dijajah Belanda. Ia dikenal tinggi ilmu silatnya. Piawai pula memainkan golok untuk senjata. Sejak masih muda usianya, Si Jampang suka merampok. Hingga kemudian ia menikah, tetap juga kebiasaannya merampok itu dilakukannya. Bahkan ketika istrinya meninggal dunia dan anaknya telah beranjak remaja.

Meski dikenal sebagai perampok, Si Jampang tidak ingin anaknya itu mengikuti jejaknya. Ia menghendaki anaknya menjadi ahli agama. Maka, hendak dimasukkannya anaknya itu ke pesantren. Anak Si Jampang bersedia masuk pesantren dengan syarat ayahnya itu menghentikan tindakan buruknya. “Masak anaknya mengaji di pesantren tapi babehnya kerjaannya merampok? Apa kata orang nanti, Be?”

Si Jampang hanya tertawa mendengar ucapan anaknya. Pada suatu hari Si Jampang mengunjungi Sarba, sahabat Iamanya. Ia telah lama tidak berkunjung. Sama sekali tidak disangkanya jika sahabatnya itu telah meninggal dunia.

Ia ditemui Mayangsari, istri mendiang Sarba. Mayangsari bercerita, ia dan suaminya itu dahulu berziarah ke Gunung Kepuh Batu. Mereka berdoa di tempat itu dan memohon agar dikaruniai anak. Sarba berjanji,jika doanya dikabulkan, ia akan menyumbang dua ekor kerbau. Doa mereka akhirnya dikabulkan Tuhan. Mayangsari hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak lelaki yang mereka beri nama Abdih. Ketika Abdih beranjak remaja, Sarba meninggal dunia. “Kata orang, suami aye’ itu meninggal karena lupa pada janjinya yang akan menyumbang dua ekor kerbau.”

Mendapati Mayangsari telah menjanda sementara dirinya juga telah menduda, Si Jampang lantas melamar Mayangsari. Namun, Mayangsari menolak dengan kasar pinangan Si Jampang. Si Jampang yang sakit hati lalu mencari dukun untuk mengguna-gunai Mayangsari. Dengan bantuan keponakannya yang bernama Sarpin, didapatkannya dukun itu. Pak Dul namanya, seorang dukun dari kampung Gabus. Si Jampang lantas mengguna-gunai Mayangsari dengan guna-guna dari Pak Dul.

Mayangsari jadi gila setelah terkena guna-guna. Ia sering berbicara dan tertawa sendiri. Abdih yang sangat prihatin pun berusaha mencari cara untuk menyembuhkan kegilaan yang dialami ibunya. Abdih lantas mencari dukun. Kebetulan dukun yang ditemuinya adalah Pak Dul dari kampung Gabus hingga Pak Dul dapat dengan mudah melepaskan gunaguna yang mengena pada diri Mayangsari.

Si Jampang lantas menemui Abdih dan menyatakan minatnya untuk memperistri ibu Abdih itu.
“Aye tidak menolak pinangan Mang’ Jampang untuk ibu aye, tapi aye minta syarat, Mang,” jawab Abdih.
“Syarat apa yang kamu minta?”
“Aye minta sepasang kerbau untuk mas kawinnya, Mang,”

Si Jampang menyanggupi, meski sepasang kerbau bukan perkara yang gampang untuk didapatkan Si Jampang. Si Jampang berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan sepasang kerbau. Teringatlah ia pada Haji Saud yang tinggal di Tambuh. Haji Saud sangat kaya, namun sangat kikir. Si Jampang lantas menghubungi Sarpin dan mengajak keponakannya itu merampok rumah Haji Saud.

Rupanya, rencana perampokan itu telah diketahui Haji Saud. Haji Saud telah menghubungi polisi. Para polisi segera bersiaga di sekitar rumah Haji Saud. Maka, ketika Si Jampang dan Sarpin yang mengenakan baju hitam-hitam itu datang hendak merampok, para polisi segera mengepungnya. Si Jampang ditangkap dan dipenjarakan. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati.

Kematian Si Jampang disambut gembira para tauke dan tuan tanah karena merasa terbebas dari keonaran yang dilakukan Si Jampang. Namun, kematian Si Jampang ditangisi rakyat miskin. Meski dikenal selaku perampok, namun Si Jampang banyak memberikan bantuannya kepada mereka. Kebanyakan Si Jampang membagi-bagikan hasil rampokannya itu kepada mereka yang membutuhkan. Bagi rakyat miskin, Si Jampang adalah sosok pahlawan.