Tampilkan postingan dengan label sumatera selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera selatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Asal Mula Nama Palembang


Pada zaman dahulu, daerah Sumatra Selatan dan sebagian Provinsi Jambi berupa hutan belantara yang unik dan indah. Puluhan sungai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Barisan, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wilayah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba*tanghari Sembilan. Sungai besar yang mengalir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Sungai Rawas, dan beberapa sungai yang bermuara di Sungai Musi. Ada dua Sungai Musi yang bermuara di laut di daerah yang berdekatan, yaitu Sungai Musi yang melalui Palembang dan Sungai Musi Banyuasin agak di sebelah utara.



Karena banyak sungai besar, dataran rendah yang melingkar dari daerah Jambi, Sumatra Selatan, sampai Provinsi Lampung merupakan daerah yang banyak mempunyai danau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu adalah rawa yang digenangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palembang yang dikenal sekarang menurut sejarah adalah sebuah pulau di Sungai Melayu. Pulau kecil itu berupa bukit yang diberi nama Bukit Seguntang Mahameru.

Keunikan tempat itu selain hutan rimbanya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kahyangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayangnya itu mendiami hutan rimba raya, lereng, dan puncak Bukit Barisan serta kepulauan yang sekarang dikenal dengan Malaysia. Mereka gemar datang ke daerah Batanghari Sembilan untuk bercengkerama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.
Karena banyaknya sungai yang bermuara ke laut, maka pada zaman itu para pelayar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bahkan sampai ke kaki pegunungan, yang ternyata daerah itu subur dan makmur. Maka terjadilah komunikasi antara para pedagang termasuk pedagang dari Cina dengan penduduk setempat. Daerah itu menjadi ramai oleh perdagangan antara penduduk setempat dengan pedagang. Akibatnya, dewi-dewi dari kahyangan merasa terganggu dan mencari tempat lain.
Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk membuat rumah di sana. Karena Sumatra Selatan merupakan dataran rendah yang berawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.

Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.

Oleh karena itu, orang yang telah bermukim di Sungai Melayu, terutama penduduk kota Palembang, sekarang menamakan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen*duduk Melayu.

Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang banyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran tinggi yang hendak ke Palembang sering me*ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.

Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Seguntang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada*lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mereka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.

Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sapurba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri itu.
Karena Bukit Seguntang Mahameru berdiam di Sungai Melayu, maka Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang dan ikut kegiatan di daerah Lembang. Nama Lembang semakin terkenal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata pa dalam bahasa Melayu tua menunjukkan daerah atau lokasi. Pertumbuhan ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Sungai Musi Banyuasin menjadi jalur per*dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang.

Minggu, 01 Mei 2016

Hikayat Antu Ayek



Sumatera Selatan merupakan wilayah yang banyak dialiri sungai-sungai. Setidaknya ada sembilan sungai besar yang mengalir di propinsi ini, sehingga gelar lain propinsi ini adalah Negeri Batanghari Sembilan. Batanghari dalam bahasa melayu Palembang diartikan sebagai sungai besar. Nah, ada banyak hikayat atau cerita yang berkembang di masyarakat yang mengiringi keberadaan sungai-sungai tersebut. Seperti legenda cinta Pulau Kemaro di sungai Musi. Cerita lain yang aku kenal di kampungku adalah legenda Antu Ayek yang sering kudengar semasa kanak-kanak, entah adakah kisah ini di daerah lain.

Antu Ayek dalam bahasa Indonesia berarti Hantu Air. Penasaran? Baca dong posting ini sampai selesai.
Konon kabarnya, dahulu kala hiduplah seorang gadis dari keluarga sederhana bernama Juani. Juani merupakan gadis kampung yang elok rupawan, berkulit kuning langsat dan rambut panjangnya yang hitam lebat. Keelokan rupa Gadis Juani sudah begitu terkenal di kalangan masyarakat. Sehingga wajar kiranya jika banyak bujang yang berharap bisa duduk bersanding dengannya.

Namun apalah daya, Gadis Juani belum mau menentukan pilihan hati kepada satu bujang pun di kampungnya. Hingga, pada suatu masa, bapak Gadis Juani terpaksa menerima pinangan dari Bujang Juandan, karena terjerat hutang dengan keluarga Bujang Juandan. Bujang Juandan adalah pemuda dari keluarga kaya raya, namun yang menjadi masalah adalah Bujang Juandan bukanlah pemuda tampan. Bahkan tidak sekadar kurang tampan, Bujang Juandan pun menderita penyakit kulit di sekujur tubuhnya, sehingga ia pun dikenal sebagai Bujang Kurap.

Mendengar kabar itu, Gadis Juani pun bersedih hati. Ia hendak menolak namun tak kuasa karena kasihan kepada bapaknya. Berhari-hari ia menangisi nasibnya yang begitu malang. Namun apa hendak dikata, pesta pernikahan pun sudah mulai dipersiapkan. Orang sekampung ikut sibuk menyiapkan upacara perkawinan Gadis Juani dan Bujang Juandan. Akhirnya malam perkawinan itu pun tiba, Gadis Juani yang cantik dipakaikan aesan penganten yang begitu anggun menunggu di kamar tidurnya sambil berurai air mata.

Ketika orang serumah turun menyambut kedatangan arak-arakan rombongan Bujang Juandan, hati Gadis Juani semakin hancur. Di tengah kekalutan pikiran, ia pun mengambil keputusan, dengan berurai air mata ia keluar lewat pintu belakang dan berlari menuju sungai. Akhirnya dengan berurai air mata Gadis Juani pun mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Kematiannya yang penuh derita menjadikannya arwah penunggu sungai yang dikenal sebagai Antu Ayek yang sering mencari korban anak-anak.

Begitulah asal mula hikayat Antu Ayek di daerahku. Meski kisah ini sangat “hidup” di tengah masyarakat, aku pribadi menilai kisah ini hanya untuk menakuti anak-anak kecil yang belum pandai berenang agar tidak sembarangan bermain sendiri di sungai. Karena tidak sedikit nyawa anak-anak yang melayang akibat tenggelam di sungai. Lucunya, semasa kecil aku sering diajarkan mantera pengusir Antu Ayek oleh orang-orang tua bilamana akan ke kayek (pergi ke sungai). “Nyisih kau Gadis Juani, Bujang Juandan nak ke kayek” (Menyingkirlah engkau gadis Juani, Bujang Juandan hendak turun ke sungai), konon kalau kita baca syair itu Antu Ayek akan menjauh karena enggan bertemu si Bujang

Legenda Pulau Kapal


rescuetelo.blogpot.com


  Dahulu kala ada keluarga miskin yang berdiam di sekat sungai Cerucuk. Mereka dalam memenuhi hidup sehari-hari hanya mencari dedaunan serta buah-buahan yang ada di hutan belantara. Hasil dari hutan itu, lalu dijual ke pasar. Dari hasil jualnya kemudian untuk keperluan sehari-hari. Mereka benar-benar miskin, tapi hidupnya biasa- biasa saja, tidak pernah menderita, meskipun mereka serba kekurangan. Keluarga itu mempunyai anak laki-laki bernama Si Kulup, dia benar-benar giat bekerja, sehingga sehari-harinya selalu membantu orang tuanya. 
Suatu hari ayah Si Kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung. Rebung itu sayur dan dimakan bertiga. Pada saat memotong rebung, maka terlihatlah ayah Si Kulup sebatang tongkat. Lalu tongkat itu diamati dan dibersihkan ternyata bertaburkan intan dan merah delima. Pulang dari hutan ayah Si Kulup tetap membawa rebung karena memang sebagai mata pencahariannya. Tongkatpun juga dibawah pulang dengan perasaan yang was-was itu. 
Setiba di rumah Si Kulup tidur sedangkan istrinya berada di tetangga. Si Kulup dibangunkan ayahnya dari tempat tidurnya lalu disuruh memanggil ibunya yang berada di tetangga, tetapi dia tidak mau, karena tenaganya masih lelah setelah mendorong kereta. Akhirnya ayahnya sendiri yang harus memanggil ibunya. Si Kulup juga menyusul ikut memanggil ibunya. Setelah kembali mereka lagi berbincang-bincang tentang tongkat yang ditemukan di tengah hutan kemarin, karena tongkat itu bertaburan intan permata dan merah delima. Mereka bertiga musyawarah. Ayahnya usul, sebaiknya tongkat itu disimpan saja, kemungkinan suatu saat ada yang mencarinya. Istrinya menjawab; dimana kita harus menyimpan padahal tidak punya lemari. 
Si Kulup usul; sebaiknya kita jual saja, agar kita tidak sulit menyimpannya. Ketiga itu akhirnya bersepakat, bahwa tongkat itu sebaiknya dijual saja. Yang mendapat tugas menjual tongkat itu ialah Si Kulup. Berangkatlah Si Kulup ke negeri lain dengan keperluan menjual tongkat. Hingga tongkatnya terjual dengan harga yang sangat mahal. Dalam waktu yang relatif singkat Si Kulup menjadi karya raya dan tidak mau pulang ke tempat orang tuanya. Dia hidup di rantauan dan banyak sekali teman-teman saudagar kaya, hingga dia diambil menantu saudagar kaya. Si Kulup sekarang sudah beristri. 
Kehidupan sehari-harinya selalu serba ada, lain kehidupan sebelumnya yang selalu dirundung kesedihan, karena kemiskinan yang dirasakan. Si Kulup berbahagia dengan istrinya, sementara sudah lupa dengan orang tuanya yang hidup serba kekurangan itu. Dia lupa ditugasi menjual tongkat, tetapi uangnya tidak diberikan sama orang tuanya. Pada suatu hari Si Kulup bersama istrinya diperintah oleh mertuanya, agar berdagang ke negeri lain. Perintah mertuanya itu selalu diindahkan, sehingga Si Kulup punya rencana ingin membeli sebuah kapal, serta mempersiapkan beberapa karyawan untuk diajak berdagang ke negeri lain. Sebelum berangkat Si Kulup minta izin serta mohon doa restu kepada mertuanya, agar dalam perjalanan yang akan ditempuh dalam keadaan selamat, serta bisa berkembang pesat dagangannya. 
Mereka mulai berlayar dan meninggalkan tempat rantauannya. Si Kulup teringat juga kampung kelahirannya. Ketika hampir mendekati sungai Cerucuk, maka mereka tambah teringat masa-masa lalu. Sampai di sungai Cerucuk mereka berlabuh. Ternyata kedatangan Si Kulup sempat didengar ayah dan ibunya. Oleh karena itu ibunya menyiapkan makanan kesukaan Si Kulup, Orang tuanya sangat rindu sekali, karena dari sekian tahun tidak berjumpa dengannya Kedua orang tuanya datang ke kapal sambil membawa makanan itu. 
Setiba di kapal orang tuanya mencari anaknya yang bernama Si Kulup. Sikap Si Kulup acuh tak acuh, bahkan malu sekali punya orang tua yang miskin itu, sampai kedua orang tuanya diusir dari kapal tersebut, hingga makanan yang dibawa ibunya itu dibuang. Kedua orang itu akhirnya meninggalkan kapal dan tidak sampai melepas kerinduannya, karena sudah didahului dengan caci maki, serta berbagai omongan yang menyakitkan hati. Saat di darat ibunya merasa terpukul hatinya, hingga kemarahannya tidak lagi terbendung, lalu dia mengucapkan : Bila saudagar itu benar-benar anakku Si Kulup tetapi tidak mau mengakui aku sebagai orang tuanya, mudah-mudahan saja kapal besar itu tenggelam.
 Setelah ibunya selesai berdoa itu, kemudian Usai ibunya mengeluarkan kata-kata tersebut, lalu keduanya yang singat tiba-tiba ada gelombang laut yang tinggi sekali semua awak kapal mulai panik. Kapal besar itu bergoncang dengan keras, sementara gelombang bertambah tinggi dan besar. Tidak bisa dipertahankan lagi, akhirnya kapal besar itu terbalik dan semua penumpangnya tewas. Tempat tenggelamnya kapal itu suatu hari muncul sebuah pulau yang menyerupai kapal. Terkadang di pulau itu terdengar suara hewan bawaan kapal yang tenggelam itu. Sehingga sampai sekarang pulau itudinamakan Pulau Kapal.

Sabtu, 30 April 2016

Legenda Danau Teluk Gelam

 


Pada zaman dahulu kala, dikawasan Marga Bengkulah yang sekarang menjadi daerah Kec.Tanjung Lubuk, ada sebuah kerajaan kecil yang dipimpin seorang raja yang arif dan bijaksana. Dia adalah Raja Awang yang mempunyai permaisuri bernama Putri Rajenah, berasal dari daerah Sugi Waras keturunan Arab yang dibawa oleh orang tuanya untuk menyebarkan Agama Islam.
Raja Awang yang dikenal oleh penduduknya baik dalam istana kerajaan maupun diluar istana sebagai seorang raja yang bijaksana dan ramah tamah. Raja Awang dalam perkawinannya bersama Putri Rajenah dikaruniai seorang putra yang bergelar Pangeran karena dia adalah pewaris tahta kerajaan. Sang pangeran diberi nama Tapa Lanang.
Dalam kesehariannya, kondisi kerajaan terasa damai dan tenteram, banyak kerajaan kecil lainnya yang bergabung dengan pemerintahannya. Hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah kekuasaan Raja Awang banyak dibawa keluar kerajaan hingga kekawasan tanah Palembang.
Ratu Putri Rajenah dikenal sebagai sosok wanita yang cantik dan dekat dengan rakyatnya. Setiap ada acara di istana dia mengharuskan untuk mengundang rakyat masuk ke istana untuk ikut bersama dengan masyarakat dalam istana kerajaan. Kecantikan Putri Rajenah tersohor kemana-mana.
Suatu hari Putri Rajenah memanggil beberapa inang pengasuh untuk membicarakan hal ihwal yang saat itu merasuki dirinya. Beliau menderita suatu penyakit, dimana penyakit yang diderita beliau semakin hari semakin parah.
Sang raja pun mengutus hulu baling kerajaan untuk mencari tabib guna mengobati penyakit sang permaisurinya. Terkumpulah tabib terkenal dari berbagai penjuru, namun tak satupun yang mampu menyembuhkan sang permaisuri.
Suatu hari ketika bercanda gurau dengan putranya si Tapang Lanang, dimana kondisi tubuhnya saat itu semakin lemas. Dia memanggil para inang untuk menggotongnya kembali masuk kamar, melihat kondisi sang putri yang lemas, para inangpun khawatir dengan kesehatan beliau, lalu disela-sela ketegangan itu sang permaisuri menarik tangan putranya yang saat itu baru berusia tujuh tahun, sang putri pun sempat melontarkan pesan baik pada putranya dan para inang.
Sang putripun berkata, "Anakku..... seandainya ibu harus dipanggil sang Khalik, kamu harus tabah menghadapi dunia yang serba fana ini, kamu jangan menjadi manusia cengeng, kamu harus berani menghadapi berbagai tantangan hidup.”
Saat itu sang raja sempat mendengar apa yang diutarakan permaisurinya. Seakan dia mengetahui bahwa istrinya sudah diambang pintu kematian, dia tidak sempat berkata apa-apa, hanya air mata menetes perlahan membasahi pipinya yang tampak kuyu karena lelah dan selalu sedih melihat kondisi permaisuri yang tak kunjung sembuh.
Suatu hari dari istana berdatangan berbunyian telukup atau bunyi pertanda bahwa diistana telah terjadi sesuatu musibah, ternyata sang permaisuri telah meninggal, semua merasa sedih dan terharu karena telah kehilangan seorang ibu yang baik, ramah dan pengasih sesama rakyat.
Menjelang 40 hari meninggalnya sang permaisuri, Raja Awang menerima undangan dari suatu kerajaan di Pulau Jawa. Karena diharuskan membawa permaisuri, maka penasehat kerajaan memberi pandangan pada sang raja agar cepat mempersunting wanita sebagai pengganti permaisuri yang telah meninggal.
Karena waktu yang mendadak, maka sang raja harus jalan-jalan keluar istana. Pada saat itulah dia menemukan seorang wanita yang dianggapnya patut untuk mendampinginya untuk memenuhi undangan para raja-raja ditanah Jawa tersebut.
Setelah dia pulang ke istana dia menceritakan hal ihwalnya tersebut kepada para penasehat. Namun dari tujuh penasehat kerajaan ada satu yang menolak raja untuk mengawini wanita yang dimaksud. Karena dia mengetahui tabiat wanita tersebut, disamping dia seorang janda, dia juga mempunya seorang putra yang sebaya dengan sang pengeran. Dia khawatir bakal ada persaingan terhadap kedua anak tersebut, namun dia kalah suara dari 6 penasehat kerajaan lainnya, akhirnya Raja Awang harus menikahi wanita tersebut.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahunpun dilalui tiada terasa, kehidupan dalam kerajaan nampak tiada perubahan, kedamaian tetap dirasakan, tanpa terasa usia perkawinan Raja Awang sudah mencapai 21 tahun.
Suatu hari, Solim putra tiri sang Raja Awang merasa iri melihat Pangeran Tapah Lanang, saudara tirinya mengenakan pakaian kebesaranan sebagai pangeran yang suatu saat dia akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja, dan dia pun mulai menyusun strategi untuk memfitnah sang raja, dia mengatakan kepada sang raja bahwa sang pangeran telah berbuat mesum dengan perempuan anak petani diluar istana, padahal sang pangeran tidak pernah keluar istana semenjak ibundanya meninggal.
Dengan memperlihatkan bukti noda darah dikain yang dikatakannya bahwa darah tersebut adalah darah keperawanan sang wanita yang dimaksudnya.
Melihat kenyataan itu, sang raja yang selama ini dikenal bijak dan arif, berubah menjadi sangat murka, dengan kasar dan kejam dia menyiksa putra kandungnya, bahkan dia mengusirnya keluar meninggalkan istana.
Sebelum Pangeran Tapah Lanang meninggalkan pintu istana, ia sempat diantar beberapa orang pengawal istana, termasuk para inang yang mengasuhnya sejak kecil. Pangeran memohon kepada hulu balang dan inang, untuk menemaninya mampir dipusara sang ibundanya. Betapa haru dan sedihnya para pengantarnya melihat sang pangeran dengan lembut mengelus pusara bundanya dengan isak tangis yang memilukan.
Lalu, sang Pangeran mengembara entah kemana dia akan pergi, berhari-hari dia menelusuri hutan belukar, akhirnya dia singgah pada sebuah talang yang sekarang disebut dengan daerah Talang Pangeran. Didaerah tersebut sang pangeran masih damai hidup sendiri karena dalam istana dia selalu bermain dengan berbagai jenis hewan, maka sang pangeran tidak merasakan kesepian, karena banyak hewan yang hidup disekelilingnya.
Suatu hari Ia berjalan meninggalkan talang tersebut untuk mencari tahu daerah lain yang dianggapnya dapat memberi kehidupan yang layak. Setelah melewati perjalanan yang jauh, sang pangeran tiba di sebuah kawasan rawa, disana dia melihat ada sebuah gubuk yang hanya disangga tiga batang tiang penyanggah.
Gubuk itu dihuni oleh seorang wanita yang dianggapnya aneh, karena setiap dia mendekati gubuk tersebut, sang penghuninya tidak pernah menampakkan wajahnya, dimana wajah itu selalu ditutupi dengan rambut yang tebal dan panjang hinggah ke tanah.
Karena ingin tahu rupa wajah sang wanita tersebut, maka sang pangeran mengambil kepingan batok kelapa yang kemudian dilemparkannya kearah gubuk yang saat itu si wanita sedang duduk di anak tangga.
Mendengar suara berdetak menerpa dinding gubuknya, tanpa sadar wanita tersebut mengibaskan rambutnya. Saat itu sang pangeran bukan main terkejutnya ketika melihat wajah si wanita betapa buruk dan menakutkan, namun tiada lain dihutan tersebut pangeran tetap mendekat, disamping dia ingin tahu secara detail siapa wanita itu, dan dia juga berniat untuk memperistrinya.
Berbulan lebih mereka hidup sebagai sahabat, namun belum pernah sang pangeran menyentuh tubuh wanita tersebut. Suatu ketika seakan ada ghaib yang membisikan pada sang pangeran agar dia mendekap sang wanita itu dari belakang, hal itupun dilakukan oleh sang pangeran, saat itu bertepatan dengan suara gemuruh halilintar yang menamparkan kemilau sinar api. Saat itu juga wanita membalikan tubuhnya menghadap kearah sang pangeran, namun rambut panjang si wanita masih menutupi wajahnya, karena persahabatan mereka berdua sudah kian akrab, tanpa segan sang pengeran mengelus rambut sang wanita dan menyibakkannya. Betapa terkejutnya sang pangeran ketika melihat wajah wanita yang dikenalnya sangat buruk dan menakutkan telah berubah menjadi wajah yang sangat cantik jelita.
Dan sang pangeran pun berlari kedekat kubangan babi yang berisi air, dan diapun mengambil air tersebut dengan belahan tempurung kelapa, dibawanya kehadapan sang wanita tersebut dan menyuruh wanita itu untuk melihat wajahnya dari air  tersebut. Ketika sang wanita melihat wajahnya dan dia pun  terkejut, karena wajahnya telah kembali baik sedia kala. Lalu si wanita tersebut mengucapkan terima kasih kepada sang pangeran.
Sesudah dia mengucapkan terima kasih ke sang pangeran, si wanita pun menceritakan masa lalunya kepada sang pangeran. Ternyata wanita tersebut adalah anak raja dari kerajaan kecil yang ada di wilayah Kuto Besi yang saat ini masuk dikawasan Lempuing.
Dia juga diusir oleh ayahnya, karena difitnah para inang pengasuh kerajaan bahwa dia (Sang Putri) telah melakukan zinah diluar pernikahan. Karena perbuatan tersebut aib bagi kerajaan, maka sang raja menyuruh si penyihir untuk merubah wajah sang putri agar menjadi buruk dan menakutkan, setelah itu sang putripun dibuang ke hutan belantara oleh si penyihir putri raja, kini wajahmu telah buruk dan menakutkan. Wajah aslimu akan kembali. Si penyihir pun berjanji, “tubuhmu disentuh oleh orang yang bukan muhrimmu, dan kecantikanmu akan kembali utuh bila lelaki yang menyentuhmu bersedia untuk mengawinimu.”
Lalu, sang putripun memberitahukan kepada sang pangeran, bahwa dirinya diberi nama oleh ayahnya Putri Gelam.
Sejak itulah mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang kemudian dari hasil perkawinan mereka dikaruniai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, dan kehidupan mereka pun dipenuhi oleh kegiatan bercocok tanam. Kadangkala Pangeran Tapah Lanang membawa hasil kebun mereka ke desa-desa terdekat untuk ditukar dengan kebutuhan yang lain. Demikian keseharian mereka yang selalu disibukkan oleh kegiatan keluar masuk desa untuk menukarkan hasil kebun mereka. Hasil perkebunan dari Pangeran Talang Lanang sangat menjanjikan, hingga diketahui oleh orang lain.
Suatu hari, gubuk mereka kedatangan tamu tak diundang, untuk merampas semua hasil kebun yang berada dibawah gubuk mereka. Saat itu pangeran dan isterinya sedang sibuk menanam kelapa dikebun, sementara kedua anaknya ditinggal didalam gubuk. Setelah kedua anak itu melihat dan menyaksikan si perampok menggasak hasil kebun mereka, anak itu pun berusaha melarikan diri dan meninggalkan pondok dengan berupaya terjun dari pondok. Namun sekawanan perampok tersebut sigap, dan akhirnya anak laki-laki dari pangeran dan sang putri tertangkap, sedangkan anak perempuannya berlari sekencangnya masuk kedalam hutan.
Anak laki-laki itupun sempat meronta dan menjerit untuk meminta pertolongan, dan sang perampok dengan kasar menyiksa hingga anak tersebut tewas, dan jasadnya pun dibuang pada bekas kubangan babi yang tidak jauh dari pondok mereka.
Beberapa perampok masih ada dipondok mereka untuk menikmati apa saja yang ada dan yang bisa mereka makan. Ketika kawanan perampok sedang menikmati semua itu, sang pangeran dan istrinya pun pulang. Betapa geramnya sang pangeran ketika melihat pondoknya telah berantakan, tanpa basa-basi lagi, sang pangeran pun langsung menyerang para perampok, dan terjadilah pertarungan yang sangat sengit, sementara itu putri Gelam pun sibuk mencari dan memanggil putra putri mereka.
Satu persatu pun para perampok tumbang ditangan pangeran. Setelah semuanya mati terbunuh, pangeran ingat akan putra putrinya, diapun berlari kesana kemari sambil memanggil anak-anaknya, namun apa yang terjadi, seketika pangeran terperangah, melihat sosok putranya telah terkapar bersimbah darah.
Setelah mengetahui putranya tak bernyawa lagi, pangeranpun langsung menangis sejadi-jadinya, tanpa dihiraukannya lagi jasad putranya. Dia terhuyung kesana kemari sambil menjerit, dan akhirnya dia tersungkur pada tanah bekas kubangan babi. Tangisnya kian menjadi, air mata yang mengucur tiada henti menggenangi tanah berlubang bekas kubangan babi tempat dia tersungkur, lama-lama kian membanjiri dan menenggelamkannya. Dimana saat itu tubuh sang pangeran hanya terlihat bagian kepala saja. Saat itu istrinya berupaya untuk menarik rambut suaminya, namun seakan ada magnet yang menyeret tubuh pangeran hingga terhisap didalam genangan air yang kian membesar, dan putri Gelampun terlempar dan tersangkut pada pepohonan.
Suatu keajaiban pun terjadi, kubangan babi itu meluas hingga membentuk sebuah danau, dan munculah sosok yang menjelma seeokor ikan besar sebagai jelmaan dari tubuh sang pangeran, sementara sosok putri Gelam yang tersangkut dipepohonan menjelma sebagai seekor burung putih berleher panjang.
Tahun terus berganti, setiap bulan purnama terjadilah pertemuan antara seekor ikan besar dan seeokor burung ditepian danau tersebut, setiap habis bulan purnama pula lah selalu terdapat hamparan telur burung yang kemudian jadi santapan para pemancing.
Semenjak adanya danau tersebut, warga kampung sekitar menamakannya Danau Teluk Gelam. Danau adalah jelmaan dari kubangan babi yang digenangi air mata sang pangeran, sedangkan Teluk adalah kata dari telur dan Gelam adalah nama burung jelmaan dari si Putri Gelam, sampai saat ini danau tersebut identik dengan sebutan “DANAU TELUK GELAM” yang saat ini menjadi primadona kawasan Wisata Alam di Ogan Komering Ilir (OKI).

Kisah Ratu Agung



Kisah Ratu Agung merupakan dongeng cerita rakyat nusantara yang berasal dari Sumatra Selatan. Cerita rakyat ini berlatarkan kejadian saat Belanda hendak menduduki Palembang. Pada kisah ini diceritakan siasat licik dari penjajah Belanda dalam memenangkan pertempuran. Selain bisa mengenal seorang pahlwan yang menjadi legenda di daerah Sumatera Selatan yaitu Ratu Agung, kita juga bisa sedikit belajar sejarah bagaimana Belanda bisa menguasai Palembang yang saat ini menjadi Ibu Kota Sumatera Selatan.

Kerajaan Palembang pada zaman dahulu diperintah oleh penguasa yang bergelar Suhunan. Suhunan yang memerintah ketika itu melaksanakan pemerintahannya dengan adil dan bijaksana. Segenap rakyat Palembang menghormati, mencintai, dan mematuhi titah Suhunan.

Suatu hari Suhunan mendengarakan tibanya pasukan Belanda untuk menyerang dan menjajah Palembang. Suhunan lantas menyiagakan segenap kekuatan untuk menghadapinya. Rakyat Palembang pun bersatu padu di belakang Suhunan. Mereka tidak ingin menjadi jajahan bangsa asing yang terkenal serakah, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka nyatakan kesanggupan mereka untuk berkorban jiwa dan raga demi negeri tercinta.

Suhunan menunjuk dan menugaskan tiga kesatria perempuan Palembang untuk membantu pertahanan Kerajaan Palembang. Ketiganya adalah Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya ternama kesaktian dan keperwiraannya. Suhunan memerintahkan pula bagi mereka untuk menjadi pengawal pribadinya.

Kerajaan Palembang terus memperkuat pertahanannya. Berbagai senjata telah disiagakan. Begitu pula dengan meriam-meriam telah disiapkan menghadap sungai Musi yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk datangnya pasukan penjajah tersebut.

Benar perkiraan mereka. Pasukan Kompeni Belanda dengan menaiki kapal-kapal besar memasuki Palembang melalui sungai Musi. Kedatangannya segera disambut dengan serangan gencar. Peluru-peluru meriam beterbangan ke arah kapal-kapal pasukan Kompeni Belanda, menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Kian gencar serangan kekuatan Kerajaan Palembang itu hingga pasukan Kompeni Belanda memutuskan untuk mundur. Bersorak-sorailah kekuatan Kerajaan Palembang mendapati mundurnya pasukan Kompeni Belanda yang berniat menjajah negeri mereka. Mereka menyangka pasukan Kompeni Belanda tidak akan berani lagi datang ke Palembang.

Perkiraan rakyat Palembang meleset, sebulan kemudian pasukan Kompeni Belanda kembali datang. Jauh lebih banyak kekuatan pasukan mereka dibandingkan kedatangan mereka yang pertama. Ketika itu kekuatan Kerajaan Palembang tidak setangguh dan sesiap seperti ketika mereka menghadapi tibanya pasukan Kompeni Belanda sebulan sebelumnya. Pasukan Kompeni Belanda dapat memporak-porandakan kekuatan Kerajaan Palembang hingga rakyat Palembang tercerai- berai dan berlarian untuk menyelamatkan diri.

Suhunan tetap bertahan dan terus menggelorakan semangat perlawanan. Begitu pula dengan Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya tetap berada di dekat Suhunan dan siap menangkis serangan yang mernbahayakan jiwa penguasa Kerajaan Palembang itu.


Menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda itu Putri Kembang Mustika menunjukkan kesaktian luar biasanya. Ketika peluru-peluru meriam datang berdesingan, ia bergerak sigap lagi gesit untuk menangkapnya. Kesaktian Putri Kembang Mustika itu benar-benar mencengangkan dan membuat pasukan Kompeni Belanda keheranan. Berulang-ulang peluru meriam ditembakkan, berulang-ulang pula Putri Kembang Mustika dapat menangkapnya dengan mudah. Persediaan peluru meriam pasukan Kompeni Belanda terus berkurang karena peluru-peluru yang mereka tembakkan menjadi sia-sia karena ditangkap Putri Kembang Mustika. Mereka akhirnya memilih mundur setelah peluru-peluru meriam mereka habis dan serangan balik kekuatan Kerajaan Palembang kian deras tertuju kepada mereka.

Suhunan sangat bangga dan kagum mendapati kehebatan Putri Kembang Mustika. Suhunan kemudian mengangkat Putri Kembang Mustika menjadi saudara Putri Darah Putih dan menggelari Putri Kembang Mustika dengan gelar Ratu Agung.

Dua kali berniat menundukkan dan menjajah Palembang namun dua kali itu pula mereka terpukul mundur membuat pasukan Kompeni Belanda tidak lagi berniat menyerang Palembang.
Palembang kembali aman dan damai. Suhunan kembali memerintah dengan segala keadilan dan kebijaksanaannya yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan. Sayang, tidak semua orang Palembang senang berada dalam kedamaian itu. Salah seorang dari mereka yang tidak senang itu bahkan termasuk kerabat dekat Suhunan sendiri, adik kandung Suhunan sendiri.

Adik kandung Suhunan berniat menjadi suhunan. Ia lantas merencanakan siasat licik. Ia mengirimkan sepucuk surat ke Kerajaan Belanda. Disebutkannya kekuatan Palembang waktu itu tidak lagi tangguh dan perkasa. Jika kekuatan Kerajaan Belanda menyerang, niscaya Kerajaan Palembang akan dapat ditaklukkan. Terlebih- Iebih, ia akan membantu memperlemah kekuatan Kerajaan Palembang dari dalam. Untuk semua itu adik kandung Suhunan meminta imbalan dengan diangkat menjadi Suhunan.

Kekuatan Kerajaan Belanda segera disiagakan dan diberangkatkan menuju Palembang. Mereka telah menyiapkan siasat khusus untuk mengalahkan kekuatan Kerajaan Palembang. Mereka telah membungkus ringgit-ringgit hingga membentuk bulatan-bulatan seperti peluru-peluru meriam. Jika meriam ditembakkan, ringgit-ringgit itu beterbangan. Rakyat Palembang tentu akan berebut ringgit-ringgit itu hingga mengabaikan pertahanan mereka.

Di Palembang sendiri adik kandung Suhunan telah pula menyiapkan siasat khusus. Dengan diam-diam ia membuang peluru-peluru meriam dan menggantinya dengan buah-buah jeruk yang dibentuknya menyerupai peluru meriam.

Pasukan Kompeni Belanda akhirnya tiba di Palembang, Suhunan segera menyiagakan kekuatannya untuk menghadapi dan menghalau. Meriam-meriam disiagakan dan tak berapa lama kemudian mulai ditembakkan. Amat terperanjat para prajurit penembak meriam ketika mendapati tembakan mereka tidak berdampak apapun setelah mengena pada sasaran yang mereka bidik. Baru kemudian mereka dapati kemudian jika peluru- peluru yang mereka gunakan untuk menembak ternyata hanyalah buah-buah jeruk!

Adapun siasat yang diterapkan pasukan Kompeni Belanda berjalan sesuai rencana mereka. Ketika buntalan-buntalan berisi ringgit-ringgit itu ditembakkan, rakyat berebut mengambil ringgit-ringgit yang beterbangan dan berjatuhan. Rakyat menjadi lengah dan tidak membantu para prajurit Kerajaan Palembang yang tengah menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda. Porak-porandalah akhirnya kekuatan Kerajaan Palembang.

Menghadapi keadaan genting tersebut Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran segera mengungsikan Suhunan.

Mundurnya Suhunan segera diikuti kerabat dan juga para prajurit Palembang. Istana kerajaan pun akhirnya kosong ketika pasukan Kerajaan Belanda memasukinya. Mereka hanya menemukan adik kandung Suhunan yang terlihat gembira menyambut kedatangan mereka.

Adik kandung Suhunan menghadap Raja Belanda. Katanya, “Hamba yang telah mengirim surat kepada Tuan. Hamba juga telah melemahkan pasukan Kerajaan Palembang dengan mengganti peluru-peluru meriam mereka dengan buah-buah jeruk. Bukankah serangan mereka menjadi sia-sia dan tidak berarti? Bukankah pasukan Belanda akhirnya dapat mengalahkan kekuatan Palembang dengan mudah? Itu semua karena jerih payah hamba, Tuan. Oleh karena itu hendaklah Tuan mengangkat hamba menjadi Suhunan yang baru.”

Raja Belanda mencibirkan bibirnya. “Engkau telah nyata-nyata mengkhianati saudara kandung dan juga negerimu sendiri! Engkau tega hati untuk melakukannya hanya karena keserakahan dan keinginanmu semata-mata untuk berkuasa. Maka, jika engkau kuangkat menjadi Suhunan, niscaya engkau pun pasti akan tega hati untuk mengkhianatiku di kemudian hari!”

Mati-matian adik kandung Suhunan memberikan janji-janjinya untuk senantiasa setia terhadap Raja Belanda.

“Sifatmu bukan menunjukkan sifat orang yang setia. Engkau bersifat pengkhianat. Seorang Suhunan tidak seharusnya bersifat khianat seperti dirimu itu!” jawab Raja Belanda.

Alangkah kecewanya adik kandung Suhunan mendengar jawaban Raja Belanda. Sama sekali ia tidak menduga mendapat jawaban seperti itu dari Raja Belanda. Musnahlah harapannya untuk menjadi Suhunan. Ia terjepit dan merasa sama sekali tidak berdaya. Terlebih-lebih ketika Raja Belanda memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dirinya!

Adik kandung Suhunan yang mengkhianati kakak kandung dan juga negerinya itu pun akhirnya menemui kematiannya setelah dilaksanakan hukuman pancung pada dirinya.

Sementara Ratu Agung sendiri kembali ke kampung halamannya di daerah Sukadana setelah Suhunan memberinya izin. Warga Sukadana sangat menghormati sosok perempuan pemberani lagi sakti itu. Ratu Agung terus menetap di kampung halamannya itu hingga akhirnya menutup mata. Kepergiannya diratapi orang-orang yang mengetahui sepak terjangnya yang gagah berani ketika membela Palembang dari serangan pasukan Kompeni Belanda.

Kamis, 28 April 2016

Legenda Pulau Kemaro



Siti Fatimah adalah putri kesayangan Raja Sriwijaga. Parasnya cantik jelita, dan sikapnya ramah pada semua orang. Tak heron, banyak pemuda yang menaruh hati dan ingin menjadikannya istri. Namun semua lamaran itu ditolak oleh Raja Sriwijaya. Raja ingin Siti Fatimah diperistri oleh saudagar kaya raya atau putra mahkota kerajaan lain yang juga kaya.

Suatu hari, seorang putra mahkota dari negeri China datang ke Kerajaan Sriwijaga. Ia datang dengan menaiki kapal yang sangat besar. Kapal itu memuat barang-barang yang akan dijual ke Kerajaan Sriwijaga. Putra mahkota itu bernama Tan Boen An. Wajahnga tampan, tubuhnya tegap dan kulitnya kuning kecokelatan.

Tan Boen An menemui Raja Sriwijaga. Ia hendak meminta izin pada Raja untuk berdagang di wilayah itu. Raja Sriwijaya dengan senang hati mengizinkannya. Dalam hati, Raja berkata, “Alangkah giatnya pemuda ini. Meskipun putra mahkota, ia tetap bekerja keras.” Raja berkhayal, akankah ia mendapatkan menantu seperti Tan Boen An?

Tan Boen An memulai usahanya dan sangat sukses. Karena bangak mendapat keuntungan, ia berniat untuk membagi sedikit keuntungannya pada Raja Sriwijaga. “Selamat pagi Baginda, soya menghadap untuk memberikan sedikit keuntungan hasil dagang saya pada Baginda,” kata Tan Boen An. Raja menerima pembagian keuntungan itu dengan senang.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, masuklah Siti Fatimah ke ruangan itu. Tan Boen An terkesiap, “Cantik sekali wanita ini,” bisiknya dalam hati. Dalam sekejap, ia sudah jatuh cinta pada Siti Fatimah.

Siti Fatimah merasa kikuk karena dipandangi terus oleh pria asing itu. Namun dalam hati ia sangat senang, karena ia juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Raja mengenalkan Siti Fatimah pada Tan Boen An. Saat bersalaman, keduanya merasa tak terpisahkan lagi.

Beberapa bulan kemudian, Tan Boen An memberanikan diri untuk melamar Siti Fatimah. “Jika Baginda mengizinkan, saya bermaksud untuk mempersunting Siti Fatimah,” kata Tan Boen An.
Raja berpikir sejenak, “Hmm…. aku memang menyukaimu, dan aku tahu kalau anakku juga mencintaimu. Tapi aku ingin mengetahui keseriusanmu. Jadi, aku akan mengajukan syarat,” jawab Raja.
Raja meminta Tan Boen An untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. “Itulah mas kawin yang aku minta darimu, aku yakin sembilan guci emas bukanlah hal yang berat bagimu,” kata raja.

Tan Boen An menyetujui permintaan tersebut. Karena itu, ia menulis surat pada orangtuanya dan menyuruh seorang utusan untuk pulang ke negeri China. “Ayah, Ibu, Ananda akan menikahi putri Kerajaan Sriwijaya. Mohon doa restu dari Ayah dan Ibu. Sebagai mas kawin, Ananda membutuhkan sembilan guci emas. Ananda berharap Ayah mengirimkannya,” demikian bunyi suratnya.

Selang beberapa waktu, utusan itu kembali dengan membawa surat balasan dari orangtua Tan Boen An. Rupanya mereka merestui rencana pernikahan tersebut dan bersedia memberikan sembilan guci emas sebagai mas kawin. Tan Boen An sangat senang. Ia mengajak Siti Fatimah dan Raja Sriwijaya menaiki kapalnya yang berlabuh di Sungai Musi. Ia ingin menunjukkan sembilan guci emas itu pada calon istri dan mertuanya.

Namun, tanpa sepengetahuan Tan Boen An, orangtuanya menutupi emas-emas itu dengan aneka sayuran dan buah-buahan. Untuk berjaga-jaga, kalau ada perompak yang menyerang kapal, emas-emas itu tak akan ditemukan. Sayang mereka lupa memberitahukan hal itu pada Tan Boen An dalam surat.
“Lihat Siti Fatimah, guci-guci ini berisi emas,” kata Tan Boen An bangga. Ia membuka salah satu guci. Tapi apa gang terjadi? Bau busuk dan menyengat tercium dari guci itu. Ketika Tan Boen An melihat ke dalam guci itu, ia hanya melihat tomat dan sawi gang sudah busuk.

Tan Boen An sangat malu. Ia membuang guci itu ke sungai. Kemudian ia membuka guci-guci gang lain, tapi semuanga sama. Ia hanga menemukan sayur dan buah yang telah busuk. Tan Boen An mulai marah, ia melempar guci-guci itu ke Sungai Musi. Tinggal satu guci yang tersisa, Tan Boen An menendang guci itu keras-keras sambil berteriak, “Ayah, Ibu, mengapa mempermalukan Ananda seperti ini?”

Pgarrr…. guci itu pecah berkeping-keping terkena tendangannga. Se- mua orang gang ada di atas kapal terkejut. Di antara sagur dan buah busuk, terlihat emas! Tan Boen An tak kalah terkejut.
Ia segera menyadari kalau semua guci gang ia lemparkan ke sungai tadi berisi emas. Tanpa pikir panjang, ia segera terjun dan berenang mengusuri Sungai Musi. Sekuat tenaga ia mencari guci-gucinga gang telah hangut itu.

Ia terus berenang jauh meninggalkan kapal sampai tubuhnga tak terlihat lagi.
Siti Fatimah cemas menunggunya. Ia berdiri di tepi kapal dan berharap Tan Boen An akan muncul. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Siti Fatimah pun memutuskan untuk menyusul Tan Boen An. Ia berpamitan pada ayahnya “Ayah, aku harus menemukan kekasihku. Jika aku tak kembali, carilah tumpukan tanah di sekitar sungai ini. Jika Ayah menemukannya, itulah kuburanku.”

Setelah berkata demikian, ia menceburkan diri ke sungai ditemani dayangnya yang setia. Raja Sriwijaya menangisi kepergian putrinya. Lama ia menunggu, tapi Putri dan Tan Boen An tak pernah kembali.
Tiba-tiba, Raja teringat pada pesan putrinya. Dan benar saja, di tepi Sungai Musi terdapat gundukan tanah. Raja Sriwijaya sangat sedih, itu berarti Siti Fatimah telah meninggal. Gundukan itu makin lama makin membesar, dan penduduk sekitar menamainya Pulau Kemaro.

Sabtu, 09 April 2016

Si Pahit Lidah



Tersebutlah kisah seorang pangeran dari daerah Sumidang bernama Serunting. Anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang ini, di kabarkan berseteru dengan iparnya yang bernama Aria Tebing. Sebab permusuhan ini adalah rasa iri-hati Serunting terhadap Aria Tebing.

Serunting memiliki sebuah ladang,begitu pula dengan Aria Tebing.Letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan dengan pepohonan.Di bawah pepohonan itu tumbuhlah tanaman Cendawan atau Jamur.Namun,Cendawan yang tumbuh itu menghasilkan hal yang jauh berbeda.Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas.Sedangkan Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.Hal ini menimbulkan rasa iri pada hati Serunting “Mengapa Cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna?Sedangkan yang menghadap kearah ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas.Ini pasti perbuatan Aria Tebing”.

Keesokan harinya,Serunting menghadap Aria Tebing dengan perasaan dendam dan marah.”Hai Aria Tebing,kamu telah brbuat curang kepadaku.Aku tidak terima cendawan yang tumbuh di pepohonan pembatas itu,yang menghadap kearah ladangmu tumbuh menjadi logam emas,sedangkan cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.Ini pasti perbuatan curangmu bukan?!”ucap Serunting kepada Aria Tebing.”Tidak,tidak,Aku tak pernah berbuat curang kepadamu”ujar Aria Tebing membela diri.”Sudahlah,kamu jangan berbohong!dua hari lagi,kita akan berduel,bersiaplah kamu Aria Tebing”ucap Serunting menantang Aria Tebing.Setelah itu,Serunting meninggalkannya.

Aria Tebing kebingungan.Ia mencari ide agar dapat mengalahkan Serunting.Ia tahu bahwa Serunting itu adalah orang yang sakti “Bagaimana aku bisa mengalahkan Serunting?Serunting itu orang sakti,tak mungkin aku bisa mengalahkannya”.Setelah lama berpikir,akhirnya Aria Tebing mendapat ide.Ia membujuk kakaknya (istri dari Serunting) untuk memberitahukan rahasia kelemahan Serunting “Wahai kakakku,beritahukanlah rahasia kelemahan suamimu,Serunting,Beritahukanlah!Aku dalam keadaan terdesak,suamimu akan menantangku untuk bertanding.Kalau aku kalah,pasti aku akan terbunuh”.”Maaf adikku,aku tak akan mau mengkhianati suamiku,aku tidak mau memberitahukannya”ucap istri dari Serunting.

“Tetapi,bila kau tidak memberitahukannya,nanti aku dibunuh olehnya,aku tidak akan membunuhnya”bujuk Aria Tebing.”Baiklah,akan kuberitahukan.Kesaktian Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin”jawab Istri Serunting memberitahukan kesaktian suaminya.”Terima Kasih,Kak,kau telah menyelamatkanku”ucap Aria Tebing berterima kasih.
Keesokan harinya,Serunting menemui Aria Tebing untuk mengadu kekuatan.Sebelum bertanding,Aria menancapkan tombaknya ke ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin.Serunting pun terluka parah.

Merasa dikhianati istrinya,Serunting pergi mengembara.Saat ia sampai di Gunung Siguntang,ia berhenti dan bertapa disana.Saat sedang bertapa,ia mendengar suara bisikan gaib “Hai Serunting,mendapatkan kekuatan Gaib?Kalau kamu mau,aku akan menurunkan ilmu itu kepadamu”.Suara itu tak lain adalah suara Hyang Maha Meru.Serunting pun menjawab dan bertanya “Baiklah,wahai Hyang Mahameru,aku mau kekuatan itu”.”Tapi,ada satu persyaratan,Kamu harus bertapa dibawah pohon bambu,setelah tubuhmu ditutupi oleh daun-daun dari pohon bambu itu,kamu berhasil mendapatkan kekuatan itu”ucap Hyang Mahameru.”Baiklah,aku menerima persyaratan itu”ucap Serunting.

Serunting pun bertapa dibawah pohon bambu.Tak terasa,dua tahun telah berlalu.Serunting masih bertapa,belum beranjak dari tempatnya bertapa,yaitu di pohon bambu.Daun-daun dari pohon bambu sudah menutupinya.Serunting pun sadar dan beranjak dari tempat itu.Kini kesaktian yang dimilikinya adalah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan dan kutukan.

Pada suatu hari,ia berniat ingin pulang ke kampung halamannya,Sumidang.Dalam perjalanannya,ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu “Hai pohon tebu,jadilah Batu”.Dalam sekejap,pohon-pohon tebu tersebut menjadi batu.Di sepanjang tepi Sungai Jambi,ia mengutuk semua orang yang ia jumpai menjadi batu.Serunting menjadi orang yang angkuh dan sombong.Oleh karena itu,orang-orang menjulukinya dengan nama “Si Pahit Lidah”

Saat ia tiba di sebuah Bukit yang bernama Bukit Serut,ia mulai menyadari kesalahannya.Ia mengubah Bukit Serut yang merupakan bukit yang gundul menjadi hutan kayu “Wahai Bukit Serut yang gundul,jadilah kau menjadi bukit yang ditumbuhi hutan kayu!”.Dalam sekejap,bukit itu berubah menjadi hutan kayu.Orang-orang berterima kasih pada Serunting karena telah mengubah Bukit yang gundul itu menjadi Hutan Kayu karena mendapatkan hasil kayu yang melimpah.

Saat Serunting tiba di sebuah desa yang bernama Desa Karang Agung,ia melihat sebuah gubuk tua.Di gubuk itu tinggalah sepasang Suami Istri yang sudah tua renta.Mereka hidup sangat miskin.Meskipun mereka sudah tua,mereka bekerja keras mengangkut kayu bakar.Merasa kasihan,Serunting mendatangi sepasang suami istri tua renta itu.Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum.

Oleh sang nenek,Serunting diberi seteguk air minum.Karena kebaikannya,Serunting akan mengabulkan apa saja yang mereka minta.Mereka hanya ingin dikaruniai seorang anak untuk membantu mereka bekerja.Ketika melihat ada sehelai rambut yang rontok menempel pada baju sang nenek,Serunting mengambilnya.Serunting mengubah rambut itu menjadi seorang bayi “Wahai rambut,jadilah engkau seorang bayi!”.

Pasangan tua itu berterima kasih kepada Serunting “Terima kasih nak,semoga engkau diberkahi Tuhan”.Serunting bahagia bisa membantu orang lain.Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya berbuah manis,orang orang masih menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah.Serunting melanjutkan perjalanannya ke Sumidang.Di sisa perjalanannya,Serunting belajar untuk membantu orang lain dan berusaha menolong orang yang kesulitan.