Tampilkan postingan dengan label sumatera barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera barat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2016

Legenda Danau Maninjau

Cerita Rakyat Dari Sumatra Barat Danau Maninjau



Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.

Semenjak orangtua mereka meninggal dunia, mereka diasuh oleh seorang paman, yaitu Datuk Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki bernama Giran.

Cerita Rakyat Dari Sumatra Barat Danau Maninjau
Setelah menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak balk, akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing. Kedua keluarga itu menyambut hubungan Sani dan Gani dengan suka cita.

Saat panen usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.
Kukuban dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.

Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.

Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima dikalahkan oleh Giran dan menyebabkan kakinya patah.

Suatu hari, Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.

“Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran sudah mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!” ujar Kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan hasil.

“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian yang sebenarnya.”
Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran tidak bisa menikah.

Betapa sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu tempat membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai.
“Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita,” keluh Giran.

“Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada Abang;” isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani merintih kesakitan “Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya,” ujar Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.

Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengawasi Sani clan Giran.

Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.

Sidang adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.

Sani dan Giran digiring menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain hitam. Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka tidak bersalah.
Di puncak Gunung Tinjau, Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Ietuskanlah gunung ini sehingga menjadi pelajaran bagi mereka semua,” doa Giran sambil berurai air mata. Lalu, Sani dan Giran meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.

Bujang Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur.

Tidak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya.

Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang semakin lama semakin besar, sehingga menyerupai sebuah danau. Danau tersebut disebut dengan Donau Maninjau

Rabu, 27 April 2016

Malin Kundang



Cerita Rakyat Malin Kundang diangkat dari latar belakang sebuah desa nelayan di Sumatra Barat tepatnya di Pantai Air Manis, Padang Selatan. Jika sobat mengunjungi tempat tersebut, pastilah menjumpai sebuah batu yang menyerupai orang sujud. Nah batu itu yang diyakini sebagai perwujudan Malin Kundang.

Dahulu kala, tersebutlah sebuah keluarga miskin yang terdiri dari seorang ibu dan anaknya yang bernama Malin Kundang. Karena ayahnya telah meninggalkannya, sang ibu pun harus bekerja keras sendiri untuk bisa menghidupi keluarganya.

Malin adalah anak yang pintar tapi sedikit nakal. Ketika dia beranjak dewasa, Malin merasa kasihan pada ibunya yang sedari dulu bekerja keras menghidupinya. Kemudian Malin meminta izin untuk merantau mencari pekerjaan di kota besar.

“Bu, saya ingin pergi ke kota. Saya ingin kerja untuk bisa bantu ibu di sini.” pinta Malin.
“Jangan tinggalkan ibu sendiri, nak. Ibu hanya punya kamu di sini.” kata sang ibu menolak.
“Izinkan saya pergi, bu. Saya kasihan melihat ibu terus bekerja sampai sekarang.” kata Malin.
“Baiklah nak, tapi ingat jangan lupakan ibu dan desa ini ketika kamu sukses di sana” Ujar sang ibu berlinang ari mata.
Keesokan harinya Malin pergi ke kota besar dengan menggunakan sebuah kapal. Setelah beberapa tahun bekerja keras, dia berhasil di kota rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Dan Malin pun sudah menikah dengan wanita cantik di sana. Berita tentang Malin yang menjadi orang kaya sampai lah ke ibunya. Sang ibu sangat senang mendengarnya. Dia selalu menunggu di pantai setiap hari, berharap anak si mata wayangnya kembali dan mengangkat drajat ibunya. Tetapi Malin tak pernah datang.

Suatu hari istiri Malin bertanya mengenai ibu Malin dan ingin bertemu dengan nya. Malin pun tidak bisa menolak keinginan istri yang sangat dicintainya itu. Malin menyiapkan perjalanannya tersebut menuju desanya menggunakan sebuah kapal pribadinya yang besar nan cantik. Akhirnya Malin pun datang ke desanya beserta istri dan anak buahnya.

Mendengar kedatangan Malin, sang ibu merasa sangat gembira. Dia bahkan berlari menuju pantai untuk segera melihat anak yang disayanginya pulang.

“Apa itu kamu Malin, anak ku? Ini ibu mu, kamu ingat” Tanya sang Ibu.
"Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirim kabar?" Katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Sang istri yang terkejut melihat kenyataan bahwa wanita tua, bau, dekil yang memeluk suaminya, berkata:
"Jadi wanita tua, bau, dekil ini adalah ibu kamu, Malin"

Karena rasa malu, Malin Kundang pun segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga jatuh.
“Saya tidak kenal kamu wanita tua miskin” kata Malin.
"Dasar wanita tua tak tahu diri, Sembarang saja mengaku sebagai ibuku." Lanjut Malin membentak.

Mendengar perkataan anak kandungnya seperti itu, sang ibu merasa sedih dan marah. Ia tidak menduga, anak yang sangat disayanginya berubah menjadi anak durhaka.
"Oh Tuhan ku yang kuasa, jika dia adalah benar anak ku, Saya mohon berikan azab padanya dan rubah lah dia jadi batu." doa sang ibu murka.

Tidak lama kemudian angin dan petir bergemuruh menghantam dan menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu, Tubuh Malin Kundang kaku dan kemudian menjadi batu yang menyatu dengan karang.

Amanat: Jadilah orang yang berbakti pada orang tua. Dan janganlah sekali-kali durhaka padanya.

Selasa, 26 April 2016

Batu Puteri Menangis

rescuetelo.blogspot.com

Tersebutlah suatu ketika di sebuah desa di Lampung,hidup seorang gadis cantik bernama Putri bersama ibunya.Mereka tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana.Ayah putri meninggal karena sakit. Oleh karena itu, ibunyalah yang mencari nafkah untuk hidup mereka berdua.



Putri dan ibunya memiliki sifat yang berbeda.Sang ibu adalah seorang yang sabar,rajin,dan penuh kasih sayang .Sementara Putri sebaliknya. Ia pemalas ,kasar, dan sering membentak-bentak ibunya.
“Bu, aku ingin peralatan kecantikan yang bagus dan lengkap. Aku ingin terlihat cantik,” pinta Putri suatu hari.

“Kamu tidak perlu berdandan karena kamu sudah cantik,anakku,” jawab ibunya.
Namun, Putri tidak mau tahu.Ia terus merengak dan merengek.Gadis yang mulai beranjak dewasa itu tidak pernah menyadari kehidupan mereka yang miskin.Selain sering meminta hal-hal yang di luar kemampuan ibunya, kegiatan sehari-harinya hayalah berdandan.Setiap hari Ia hanya menghabiskan waktu duduk di depan cermin.

Suatu hari kondisi iunya kurang baik. Namun karena tuntunan hidup, Ia harus tetap berdagang ke pasar.
“Temani Ibu ke pasar ya,Put? Sekali ini saja.Jika ibu tidak sakit, Ibu pasti akan pergi sendiri,” pints ibu pada Putri.

“Baiklah, tapi nanti setiba di pasar Putri langsung pulang,” jawab Putri ketus.
Akhirnya mereka berdua berangkat menuju ke pasar.Sepanjang perjalanan Putri terus-menerus menggerutu dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan ibunya. Sesampainya di pasar ibuya bertanya, ”Put,kenapa tadi di jalan kamu berjalan sangat cepat dan terus menjauhi Ibu?”

“Oh, biar cepat sampai saja,Bu,” jawab Putri singkar.
“Kamu malu, ya berjalan dengan Ibu?” Selidik Ibunya.
“Kalau Ibu sudah tahu, kenapa ibu masih saja mengajak AkuJ?” Jawab Putri Ketus.
“Kalau begitu kamu pulang saja. Biar Ibu yang menjaga di sini.”

Hati Ibu Putri jelas terluka dengan sikap anak satu-satunya tersebut. Ia hanya bisa berdoa agar anaknya berubah menjadi anak yang rajin dan menhormati orang tua. Menjelang siang dagangannya telah habis. Teringat janji kepada anaknya, ibu Putri segera bekemas. Ia pun segera pergi membeli peralatan kecantikan pesanan Putri ke kota.

“Ini pesananmu, Put.” Ucap Ibu.
Putri segera membuka bungkusan tersebut. Namun setelah di buka, Ia menjadi marah.
“Mengapa peralatan kecantikannya seperti ini? Aku mau peralatan yang bagus dan mahal, seperti yang ada di kota,” bentak Putri.

“Ini juga bagus , Put. Lagipula Ibu tidak kuat jika harus pergi ke kota,” jawab Ibu dengan suara menahan tangis.
“Pokoknya aku tidak mau tahu. Ibu harus membelinya ke kota,” ujar Puttri setengah memerintah ibunya.

Sambil melangkahkan kaki keluar rumah, hati Ibu Putri menjerit dan berdoa agar Tuhan YME memberikan pelajaran kepada anaknya. Setelah Ibunya pergi, Putri segera duduk di depan cermin mencoba peralatan kecantikan tersebut. Ia terus menerus mempercantik wajahnya. Namun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh pada kakinya. Ketika melihat kakinya ia pun menjerit.

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuu!” Ternyata kaki Putri telah berubah menjadi batu. Ia menangis dan terus menerus memanggil ibunya. Saat itu ia baru tersadar jika selama ini ia telah banyak berbuat salah pada ibunya.Namun, seperti pepatah “ Penyelan di akhir tidak ada gunanya”. Lama kelamaan tubuh Putri berubah menjadi batu.

Konon sampai sekarang batu itu masih berada di tempatnya. Batu itu di sebut batu Puteri Menangis karena batu tersebut berbentuk seperti seorang gadis yang sedang duduk dan kadang-kadang terlihat air mengalir dari ujung matanya seperti air mata.

Asal Usul Danau Singkarak

 
 
 Di sebuah desa yang terletak di Sumatra Barat, hiduplah Pak Buyung, istri, dan seorang anak yang bernama Indra. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir laut.
Sehari-hari, Pak Buyung dan istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap pagi, mereka mencari manau, rotan, dan damar, kemudian menjualnya di pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut untuk menangkap ikan dengan menggunakan jala, pancing, atau bubu.
Ketika sudah berusia 10 tahun, Indra mulai diajak membantu orangtuanya ke hutan dan laut. Ia anak yang rajin dan tidak pernah mengeluh. Ayah dan ibunya sangat bangga kepadanya. Hanya satu hal yang membuat mereka resah, yaitu nafsu makan Indra yang sangat besar. Sekali makan, ia biasa menghabiskan setengah bakul nasi dan beberapa piring lauk.
Suatu saat, tibalah musim paceklik. Hasil hutan dan hasil laut semakin sulit didapat. Keluarga ini menyantap ubi dan talas sebagai pengganti nasi. Ternyata, musim paceklik kali ini berlangsung lama, sehingga mereka semakin sulit mendapatkan bahan makanan. Mereka harus menahan lapar setiap harinya. Lama-kelamaan, keadaan ini membuat mereka menjadi lebih peduli pada diri sendiri daripada kepada anaknya.
Suatu hari, Indra mengeluh perutnya sangat lapar. Sudah berhari-hari mereka hanya makan ubi bakar. Ia menangis dan mengadu kepada ayahnya. “Ayah, aku lapar sekali. Bisakah ayah beri aku makanan?” rengeknya. “Anak malas! Jika kamu lapar, pergi sana mencari manakan sendiri di hutan atau di laut!” ujar ayahnya.
Sang ibu mencoba membela Indra, karena Indra masih kecil. Namun, ayahnya tetap bersikeras agar Indra mencari makan sendiri. Berkat bujukan   ibunya, Indra pun berangkat mencari makan menuju hutan di Bukit Junjung Sirih.
Sebelum berangkat, Indra terlebih dulu memberi makan ayam piaraannya yang bernama Taduang. Ayam tersebut sangat setia kepada Indra. Setiap kali Indra datang atau pulang ke rumah, ia selalu berkokok menyambutnya.
Dari pagi sampai siang hari, Indra pergi mencari makanan ke hutan dan ke laut. Namun sampai siang hari, tak sedikit pun didapatinya makanan untuk mengisi perutnya yang lapar. Maka, ia pun kembali pulang.
Keesokan harinya, sang ayah kembali menyuruhnya pergi mencari makanan. Sementara ayah dan ibunya hanya tidur-tidur di rumah. Mereka seperti sudah pasrah terhadap keadaan. Sampai sebulan keadaan ini berlangsung dan Indra merasa tubuhnya sangat lelah.
Suatu hari, ketika Indra sedang mencari makan ke laut, ibunya berhasil mendapatkan pensi (sejenis kerang yang ukurannya kecil), hasil tangkapannya bersama beberapa tetangga.
“Apa itu, Bu?” tanya suaminya.
Ibu Indra yang sedang mencuci bahan makanan mengatakan bahwa pensi sangat enak jika digulai. Ia lalu memasak gulai   pensi, aromanya membuat perut sang ayah semakin lapar.
“Wah, sedap sekali aromanya, Bu. Apakah ini cukup untuk kita bertiga? Ibu kan tahu Indra makannya banyak sekali. Rasanya tidak cukup,” kata sang ayah.
“Lalu bagaimana, Pak?”
“Begini saja, kita makan saja berdua selagi Indra pergi ke laut. Jika ia kembali, kita sembunyikan lauk ini. Si Taduang pasti akan berkokok jika Indra datang.”
Akhirnya, Pak Buyung dan istrinya menyantap gulai pensi tersebut dengan sangat lahap. Namun belum selesai mereka makan, si Taduang berkokok. Suami istri ini segera merapikan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke dalam rumah, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai.
“Maaf Ayah, aku tidak mendapatkan ikan sama sekali,” kata Indra.
“Jika kau tidak mendapatkan ikan, apa yang bisa kau makan?” kata Pak Buyung.
“Aku lelah sekali, Ayah. Bolehkan aku makan?”
“Baiklah kau boleh makan, tetapi kau harus mencuci ijuk ini terlebih dahulu hingga menjadi putih,” ibunya sambil menyodorkan seikat ijuk yang baru saya dibawa Pak Buyung dari hutan.
Indra pergi ke sungai untuk mencuci ijuk. Sekian lama ia mencuci, tetapi warna ijuk itu tidak bisa berubah. Kasihan Indra, ia tidak tahu bahwa ijuk tersebut memang berwarna hitam dan tidak akan bisa dijadikan putih meskipun dicuci. Ia tidak tahu bahwa ayah dan ibunya sedang meneruskan menyantap makanan dengan lahapnya di rumah.
Merasa tubuhnya sudah sangat lelah, Indra lalu kembali ke rumah. Sampai di rumah, ia pelan-pelan masuk ke dapur. Dengan sangat terkejut, ia melihat ayah dan ibunya sedang tertidur kekenyangan di dapur dengan sisa-sisa piring makan berserakan di sekitarnya. Tidak ada lagi makan yang tersisa.
Indra sangat sedih dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka orangtuanya telah membohonginya. Dengan air mata menetes di pipinya, ia berjalan keluar dan menangkap ayam kesayanganya si Taduang. Mereka lalu duduk di sebuah batu di samping gubuk tempat tinggal Indra. 
“Ayah dan ibu sudah membohongiku, Taduang. Aku sangat sedih. Lebih baik aku pergi, karena ternyata mereka tidak menyayangiku,” isak Indra.
Taduang berkokok sebagai tanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Ayam itu lalu mengepakkan sayapnya seolah-olah memberi tanda kepada Indra.
Indra berpegangan pada kaki Taduang. Lalu, ayam itu terbang perlahan dengan Indra yang bergantung pada kakinya. Ternyata, batu tempat mereka duduk itu terbawa di kaki Indra. Semakin ke atas batu tersebut semakin membesar dan menjadi berat. Taduang tidak lagi kuat terbang membawa Indra dan batu besar itu, Akhirnya, Indra menendang batu tersebut hingga jatuh ke bumi dan menghantam sebuah bukit yang letaknya di dekat lautan. Hempasan batu tersebut membuat lubang yang memanjang, Dengan cepat air langsung mengaliri lubang tersebut sehingga membentuk aliran sungai.
Menurut cerita, aliran tersebut adalah asal-usul terbentuknya Sungai Ombilin yang mengalir sampai Riau. Kemudian, air laut menjadi menyusut membentuk sebuah danau yang kemudian dinamakan Danau Singkarak.
Sementara itu, Indra dan ayam kesayangannya tidak diketahui keberadaannya.

Senin, 25 April 2016

Siamang Putih

 
 
Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan di daerah sumatera barat. Dalam kerajaan itu, tinggal seorang putri bersama keluarganya.Putri itu bernama putri Julian. Ia mempunyai wajah yang cantik dan rupawan. Sayang, sang putri Julian belum memiliki pasangan. Para pria di sekitar kerajaan tersebut tidak berani untuk melamar putri Julian.
Mereka takut karena putri Julian adalah keturunan raja. Tidak hanya itu, kakek dan nenek putri julian adalah saudagar kaya.Raja yang mengetahui kesedihan putrinya kemudian mengadakan jamuan makan dan mengundang semua orang dari berbagai tempat. Raja berharap adanya seorang pria dari para tamu yang datang untuk melamar putrinya.Namun, harapan itu sirna ketika tak ada jua yang melamar putri Julian. Saat malam hari tiba, putri Julian bermimpi tentang seorang pria bernama Sutan Rumandung yang datang dan melamar dirinya. Ia menceritakan mimpi ini kepada raja. 
Raja mencari pria yang bernama Sutan Rumandung di berbagai tempat, tetapi ia tidak menemukan pria itu. Sebuah kapal berlabuh di pelabuhan yang terletak tidak jauh dari kerajaan tempat putri Julian tinggal. Di kapal itu ada seorang pria bernama Sutan Rumandung.Ia mempunyai wajah yang rupawan serta tampan. Raja pun mengundang Sutan ke istana. Raja pun hendak menjodohkan Sutan dengan putri Julian. Sutan setuju untuk menikah, tetapi dengan syarat yaitu ia harus mengumpulkan harta sebanyak mungkin agar ia layak menikahi putri Julian. 
Putri Julian awalnya menolak syarat itu, tetapi karena Sutan berkeras maka ia pun menyetujui. Putri Julian dan Sutan Rumandung pun mengucapkan sumpah bahwa mereka akan saling menunggu.Putri Julian bersumpah apabila ia melanggar sumpahnya maka ia akan berubah menjadi siamang, sedangkan Sutan jua bersumpah apabila ia melanggar sumpahnya maka ia akan tenggelam di dasar laut. Sutan akhirnya pergi meninggalkan putri Julian.  
Putri Julian pun menunggu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tiba-tiba terdengar kabar bahwa muncul seorang pria yang hendak melamar putri Julian. Pria ini tak kalah tampan jika dibandingkan dengan Sutan Rumandung. Tanpa berpikir panjang, putri Julian menerima lamaran itu. Pernikahan pun dilangsungkan di istana putri Julian. Ketika penghulu bertanya kepada putri Julian apakah ia bersedia menikah dengan pria itu. 
Suara putri Julian dan bentuk tubuhnya pun berubah. Badannya mengecil dan bertumbuh bulu berwarna putih di seluruh tubuhnya. Ia pun berubah menjadi siamang putih. Siamang putih kemudian berlari ke atap kerajaan dan meraung sambil melihat ke arah laut.  Para penduduk desa menduga bahwa putri Julian menunggu kedatangan Sutan yang tak kunjung muncul.Siamang putih terus menunggu sampai akhirnya ia meninggal. 
Rupanya terdengar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Sutan Rumandung tenggelam di laut. Hal itu terjadi karena Sutan melanggar sumpahnya. Ia hendak menikahi seorang perempuan lain.

Minggu, 24 April 2016

Kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih



Siti Nurbaya. Legenda cerita rakyat yang mengisahkan tentang jalinan kasih yang tak sampai antara sepasang insan yang berujung pada kawin paksa. Sang pria bernama Syamsul Bahri,
selain berwajah tampan juga berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud.

Si gadis bernama Siti Nurbaya, berparas jelita, berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul sangat direstui oleh kedua orang tuanya yang masih punya hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah Mamak Siti Nurbaya.

Setelah menamatkan sekolah tingkat atas, Syamsul Bahri melanjutkan sekolah calon Dokter di pulau Jawa untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Tak terbayangkan betapa sedihnya Syamsul Bahri yang harus meninggalkan sang kekasih pujaan hati. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi disaat melepas kekasih hatinya di pelabuhan Teluk Bayur, dan berharap cepat kembali. Saling berkirim surat cinta adalah pengobat rindu mereka berdua.

Tahun berlalu musim berganti, musibah datang mendera keluarga Siti Nurbaya, usaha dagang ayahnya mengalami kebangkrutan, hingga jatuh miskin dan Baginda Sulaiman akhirnya jatuh sakit. Beliau akhirnya meminjam uang kepada seorang rentenir yang berbadan kurus dan suka beristri banyak bernama Datuk Maringgih. Hutang Baginda Sulaiman akhirnya bertumpuk dan berbunga pada Datuk Maringgih.

Suatu hari Datuk Maringgih pergi kerumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Disanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman untuk menjadikan Siti Nurbaya sebagai istri mudanya kalau ayah Siti Nurbaya tak sanggup untuk membayar hutangnya.

Siti Nurbaya menolaknya, karena dia sudah punya kekasih yakni Syamsul Bahri. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri, hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri.

Suatu hari Syamsul Bahri pulang ke Padang dan bertemu degan Siti Nurbaya. Datuk Maringih naik pitam dan meyebarkan fitnah yang menyudutkan Syamsul Bahri. Akhirnya ia di usir oleh ayahnya Sutan Mahmud. Syamsul Bahri kembali ke Jakarta, diam-diam ia menyamar jadi tentara kompeni Belanda, dengan nama samaran Letnan Mas.

Datuk Maringgih menjadi benci kepada Siti Nurbaya, puncaknya ia melampiaskan dendamnya dengan memberikan Lemang beracun kepada pesuruhnya untuk diberikan kepada Siti Nurbaya. Siti Nurbaya menemui ajalnya setelah memakan lemang beracun kiriman Datuk Maringgih.

Pada saat tragedi Balesting (Saudagar-saudagar pribumi yang tidak mau membayar upeti/pajak dibawah pimpinan Datuk Mariggih), dikirimlah Letnan Mas oleh Kompeni ke Padang untuk menumpas para pembangkang balesting.

Terjadilah peperangan satu lawan satu antara Letnan Mas dengan Datuk Maringgih. Akhir cerita Letnan Mas yang tak lain adalah Syamsul Bahri tewas di pedang diujung pedang, bersamaan dengan Datuk Maringgih juga roboh terkena tembakan Letnan Mas.